Kabar BUMN - Penuhi target operasional akhir September 2022, PT Len Industri (Persero) memastikan Operation Control Centre atau OCC LRT Jabodebek siap digunakan untuk uji coba. Pusat operasi dan kontrol ini akan menggunakan perangkat canggih untuk mendukung sistem operasi dan persinyalan LRT Jabodebek secara maksimal.
LRT Jabodebek ditargetkan mulai beroperasi secara driverless di 3 jalur utama pada September 2022. Namun, pengoperasian secara penuh baru akan dilakukan pada Desember 2022, mengingat masih ada yang manual beberapa di depo.
Direktur Strategi Bisnis & Portofolio PT Len Industri (Persero), Linus Andor Mulana Sijabat mengatakan, PT Len Industri sejak awal terlibat dalam pembangunan pusat operasi dan kontrol di Depo LRT Jabodebek di Jatimulya, Bekasi. OCC ini berfungsi sebagai monitoring sistem persinyalan, power system, dan pusat telekomunikasi berbasis CCTV.
“Kami bertanggung jawab terhadap design engineering hingga instalasi jaringan dan semua perangkat OCC LRT Jabodebek. Juga terminasi ER (Equipment Room) ke perangkat persinyalan outdoor. Saat ini, progresnya telah mencapai 98 persen dan dalam tahapan pengetesan integrasi,” jelas Linus.
Menurutnya, OCC memiliki peran vital dalam mendukung operasi LRT Jabodebek. Sistem hardware dan software yang digunakan adalah teknologi canggih yang memenuhi kualifikasi standar keselamatan internasional. Apalagi, LRT Jabodebek nantinya akan beroperasi secara driverless (tanpa masinis).
OCC LRT Jabodebek terdiri atas bagian kontrol dan monitoring untuk persinyalan, power system, dan CCTV terpusat dengan sistem telekomunikasi yang menghubungkan seluruh stasiun LRT. Agar operator memahami cara kerja sistem persinyalan kereta driverless, Len dan Siemens memberikan pelatihan Automatic Train System (ATS) pada 9-18 Maret 2022.
Ada 3 bagian utama dalam layar OCC LRT Jabodebek ini. Pada layar video-wall, bagian kanan atas adalah kontrol persinyalan. Layar ini berfungsi untuk memantau persinyalan di dalam kereta dan semua track lintasan serta depo LRT Jabodebek. Sementara layar kanan bawah adalah bagian SCADA yang berfungsi untuk monitoring power system di semua lintasan dan depo LRT Jabodebek. Terakhir, layar bagian kiri untuk kontrol telekomunikasi serta monitoring CCTV di semua stasiun dan depo LRT Jabodebek.
Linus menambahkan, keterlibatan PT Len Industri (Persero) pada proyek LRT Jabodebek merupakan perwujudan dari konsep dual-use technology (pertahanan dan non-pertahanan) seiring dengan posisi Len sekarang sebagai induk Holding BUMN Industri Pertahanan Defend ID.
“Persinyalan LRT Jabodebek ini menggunakan Train Guard MT Signalling System dari Siemens. Kemudian kami bertanggung jawab melakukan pemasangan seluruh perangkat persinyalannya dan juga sistem Paltform Screen Doors (PSD). Kami juga menyuplai produk dan perangkat seperti power supply system untuk persinyalan, sistem pengkabelan indoor dan outdoor persinyalan, perangkat emergency train stop, dan perangkat luar persinyalan lainnya,” jelas Linus.
Selain OCC LRT Jabodebek yang siap digunakan, PT Len Industri juga telah menyelesaikan pemasangan sistem persinyalan LRT Jabodebek. Adapun perangkat persinyalan meliputi semua jalur utama untuk lintas 1 Cibubur-Cawang, lintas 2 Cawang-Dukuh Atas, dan lintas 3 Cawang-Jatimulya. Len juga menggarap perangkat persinyalan di 31 kereta LRT Jabodebek.
Setelah semua perangkat persinyalan selesai diintegrasikan dan terhubung dengan kereta, lintasan dan depo, akan dilakukan serangkaian uji penggunaan. Uji coba meliputi tes Site Acceptance Test (SAT), Trial Running, Site Integration Test (SIT), dan lainnya.
Pada kondisi normal, LRT Jabodebek mampu mengangkut 740 orang penumpang. Namun, pada kondisi padat bisa mencapai 1.308 penumpang. Setiap rangkaian LRT memiliki konfigurasi 174 duduk dengan tempat penumpang berdiri sebanyak 566 orang. Total ada 31 rangkaian kereta dengan 186 unit gerbong. Kereta dengan sumber listrik ini diharapkan menjadi jawaban atas tingginya mobilitas warga Jabodebek.