Sementara itu, di sektor hilir khususnya digitalisasi SPBU Pertamina menerapkan minimum inventory stok BBM tanpa mengurangi ketersediaan produk BBM untuk masyarakat.
Program ini rupanya cukup memberi dampak positif untuk keuangan Pertamina.
"Sepanjang kami jaga dan monitor betul agar tidak terjadi kelangkaan, sehingga uang yang tersimpan dalam inventory dapat dikurangi. Kami atur betul inventory setiap SPBU seperti apa," tutur Nicke.
Baca Juga: Anti Mainstream, Ini Tempat Wisata Indonesia yang Dianggap Sakral. Hati-hati Jangan Sembarangan!
Lebih lanjut, Nicke menjelaskan bahwa program digitalisasi sukses mengurangi penyalahgunaan BBM dan LPG bersubsidi.
Digitalisasi, menurut Nicke, saat ini dapat mengubah operating model atau cara bekerja, yang akhirnya dapat memberikan value dalam bentuk cost optimization yang meliputi cost efficiency, cost avoidance, dan revenue enhancement.
“Tiga hal ini pada dua tahun terakhir, 2021 dan 2022, nilainya mencapai 3,27 miliar Dollar AS."
"Cost optimization ini menjadi penyumbang terbesar dari peningkatan kinerja Pertamina untuk tahun 2022," pungkasnya.