Rahmadi dan kelompoknya membudidayakan lebah madu di sekitar rumah. Kotak tempat sarang lebah diletakkan di atas bangku kecil di halaman rumah. Lebah yang dibudidayakan jenis apis trigona, berwarna hitam, berukuran kecil sekitar 4 milimeter dan tidak menyengat.
Biasanya bersarang pada lubang pepohonan, membentuk sarang berbentuk bulat-bulat kecil menyerupai gentong berdiameter satu sentimeter. Dari sarang berbentuk gentong tersebut, madu bisa langsung disesap dengan menggunakan sedotan.
Sejak budidaya madu dikembangkan, Kecamatan Bandar Laksamana, berubah menjadi hutan alam yang menjadi penyangga oksigen di wilayah Riau apalagi lokasinya berbatasan langsung dengan Malaysia.
Hasil panen madu yang dibudidayakan Kelombok Budidaya Madu Bien di berkualitas sangat baik sehingga layak diekspor.
Baca Juga: Raih Kinerja Positif 2023, Kilang Pertamina Siap Tangkap Peluang di 2024
Rahmadi menjelaskan madu trigona merupakan produk unggulanya. Produk Madu diberi merek Biene dijual dalam bentuk curah maupun kemasan. Madu curah biasa dikirim ke Pekanbaru.
Sementara produk kemasan 225 ml dijual di kisaran Rp65 ribu–Rp75 ribu, secara daring di marketplace dengan pembeli beragam dari seluruh Indonesia. Produk sudah mendapatkan izin PIRT (Pangan, Industri Rumah Tangga) dan sertifikasi halal.
“Madu trigona menjadi unggulan. Per kati atau sebotol kecap kaca, kira-kira 650 mililiter harganya Rp250 ribu,” katanya.
Baca Juga: Kilang Pertamina Internasional Raih Sertifikasi AEO untuk Keamanan Rantai Pasok
Keberhasilan Rahmadi dan anggota kelompoknya, mendorong minat warga lain untuk belajar budidaya madu. Menurutnya sudah ada 50 orang dari Desa Tanjung Leban dan 60 dari luar desa yang berbagi ilmu budidaya lebah madu.
“Sekarang kami menjadi pionir dalam kegiatan budidaya madu hutan gambut di kawasan Kecamatan Bandar Laksamana, melalui penerapan budidaya dan pemanenan yang berorientasi ramah lingkungan,” katanya.
Selain itu, Desa Tanjung Leban mendapatkan penghargaan Program Kampung Iklim (PROKLIM) Kategori Utama pada 2023.***