"Bantuan yang diberikan kami salurkan secara bertahap dalam bentuk kegiatan TJSL,” tambah Mushonif.
Selain mengembangkan keterampilan kewirausahaan, pelatihan ini juga bertujuan melestarikan nilai budaya lokal melalui seni batik, sekaligus menjadikannya sebagai sumber ekonomi kreatif yang inklusif.
Dengan menggabungkan kearifan lokal dan teknologi digital, para peserta didorong untuk bersaing di pasar yang lebih luas, baik secara online maupun offline.
Pemimpin PT Pegadaian Kanwil XI Semarang, Edy Purwanto, menegaskan bahwa kegiatan ini mencerminkan semangat sosial Pegadaian yang terus mendampingi kelompok marginal, terutama penyandang disabilitas.
Baca Juga: Fenomena Borong Emas Kian Menggeliat, Pegadaian Catat Lonjakan Transaksi Fisik dan Digital
“Perusahaan tidak selalu mengutamakan bisnis semata, tetapi juga berupaya memberikan kemanfaatan kepada masyarakat luas,” ungkap Edy.
Program pemberdayaan ini juga mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), yaitu:
Baca Juga: Deposito Emas Pegadaian Tembus 1 Ton Sejak Diluncurkan, Transaksi di April Meningkat 4x Lipat
- SDG 4: Pendidikan Berkualitas, lewat pelatihan vokasional bagi difabel;
- SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, dengan membuka akses produktif dan pemasaran;
- SDG 10: Mengurangi Ketimpangan, melalui pemberdayaan kelompok marginal;
- SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, dengan mendorong produksi lokal yang berkelanjutan; serta
- SDG 17: Kemitraan untuk Tujuan, melalui sinergi antarentitas BUMN dalam satu holding.
Baca Juga: Usai Lebaran, Warga Serbu Galeri 24 Pegadaian untuk Investasi Emas
Lewat inisiatif ini, PT Pegadaian menegaskan pentingnya membangun ekonomi yang inklusif dimulai dari komunitas paling rentan.
Dengan kombinasi pelatihan, pendampingan, dan dukungan usaha, komunitas difabel diharapkan tidak hanya bertahan secara ekonomi, tetapi juga tumbuh menjadi pelaku usaha yang mandiri, percaya diri, dan kompetitif di pasar.***