tjsl

Antam Kembangkan Model Pertanian Sirkular Di Bogor, 35 Hektare Lahan Tidur Dipulihkan

Rabu, 25 Februari 2026 | 11:00 WIB
Antam melalui Unit Bisnis Pertambangan Emas (UBPE) Pongkor mengembangkan Program Garitan Kalongliud di Desa Kalongliud, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. (DOK. Antam)

Kabar BUMN - PT Aneka Tambang Tbk (Antam) melalui Unit Bisnis Pertambangan Emas (UBPE) Pongkor mengembangkan Program Garitan Kalongliud sebagai model pertanian sirkular terpadu guna memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi Desa Kalongliud, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Corporate Secretary Antam Wisnu Danandi Haryanto mengatakan, program Garitan Kalongliud menunjukkan bahwa keberlanjutan tidak hanya berkaitan dengan aspek lingkungan, tetapi juga mencakup penguatan ekonomi dan ketahanan sosial.

Menurutnya, model pertanian sirkular yang dikembangkan di Kalongliud diharapkan dapat menjadi referensi penguatan desa berbasis potensi lokal sekaligus mendukung strategi keberlanjutan perusahaan di sekitar wilayah operasional.

Baca Juga: Suntik Modal Anak Usaha, Jasa Marga Menerbitkan Obligasi Rp2,06 Triliun

Program tersebut dijalankan bersama masyarakat pascabencana banjir dan longsor pada 2020 yang merusak jaringan irigasi desa dan menyebabkan sekitar 150 hektare lahan pertanian mengalami kekeringan serta menurunkan pendapatan petani.

Antam mencatat sebanyak 35 hektare lahan tidur berhasil dipulihkan menjadi lahan produktif melalui pendekatan pertanian sirkular, termasuk pemanfaatan limbah lokal dan efisiensi sumber daya air.

Sebanyak 25 ton limbah kotoran domba dimanfaatkan sebagai pupuk organik sehingga mampu menekan penggunaan pupuk kimia hingga 50 persen.

Baca Juga: PT TIMAH Tambah Program Laut Berkelanjutan, 36 Atraktor Cumi Ditanam di Belitung Timur

Penerapan sistem irigasi tetes juga meningkatkan efisiensi penggunaan air hingga 60 persen.

Pemulihan lingkungan diperkuat melalui penanaman 3.000 pohon di sempadan Sungai Cinyurug yang berkontribusi pada penurunan emisi sekitar 21,5 ton karbon dioksida ekuivalen per musim tanam.

Dari sisi ekonomi, pendapatan kelompok tani meningkat hingga 65 persen, sementara biaya pupuk turun sekitar 50 persen.

Baca Juga: KCIC Minta Masyarakat Hati-Hati, Modus Penipuan Layanan Whoosh Perlu Diwaspadai

Pada periode budidaya cabai 2024-2025, kegiatan usaha mencatatkan keuntungan sebesar Rp246,26 juta.

Evaluasi berbasis Social Return on Investment (SROI) menunjukkan nilai 4,34, yang berarti setiap Rp1 investasi menghasilkan manfaat sosial lebih dari Rp4.

Halaman:

Tags

Terkini