Pasalnya, pelanggan bisa bebas memilih layanan pascabayar atau prabayar.
Selain itu, PLN juga bisa mempercepat waktu pemulihan apabila terjadi gangguan listrik karena akan terdeteksi secara realtime.
"Oleh karena itu, kami akan melaksanakan program pembaruan kWh meter yang terpasang di rumah pelanggan menjadi smart meter AMI. Program ini gratis. Pelanggan tidak perlu mengeluarkan biaya," tutur Darmawan.
Penggunaan smart meter AMI juga membuat pembacaan meter yang sebelumnya dilakukan secara manual (door to door) oleh petugas, kini bisa dilakukan secara digital, sehingga lebih akurat serta privasi pelanggan akan lebih terjaga.
Darmawan menyebut nantinya petugas hanya akan datang ke rumah pelanggan untuk melakukan pemeliharan atau pengecekan fisik apabila ada gangguan pada media komunikasi smart meter.
"Penerapan smart meter berbasis AMI ini membawa banyak manfaat. Pembacaan data meter secara real time dan dilakukan dari jarak jauh sehingga tidak diperlukan lagi pembacaan meter ke lokasi. Dengan demikian privasi pelanggan juga lebih terjaga," papar Darmawan.
PLN menargetkan di akhir tahun 2023 nanti program ini akan dilaksanakan bagi 1.217.256 pelanggan secara bertahap dan mencakup beberapa daerah seperti di Jawa Timur (Sidoarjo), Jawa Tengah (Magelang), Jawa Barat (Bandung), Jakarta, Banten, Bali, Medan, dan Makassar mulai bulan Juni 2023.
Lebih lanjut, Darmawan menyebut smart meter berbasis AMI juga bermanfaat untuk beberapa hal lainnya.
"AMI juga bisa dikembangkan ke produk beyond kWh, mulai dari energi baru terbarukan, kendaraan listrik, internet, teknologi pertanian, perangkat smart home, smart prepayment," pungkasnya.