Pembuatan umpan pancing secara manual, yang masih menggunakan tangan, menyebabkan ukuran udang berbeda-beda, tidak konsisten.
Baca Juga: Cetak Generasi Pemimpin, Hutama Karya Gelar Finale Series Leadership Development Program 2025
Selain kualitas produk, Bahrudin dan kelompoknya juga menghadapi tuntutan untuk memenuhi permintaan (demand) produk yang terus meningkat sehingga mereka perlu menggenjot produksi.
Dengan kehadiran PHE OSES yang memberikan mesin duplikator dan membangun bengkel workshop, tantangan dan rintangan tersebut pun dapat teratasi.
Selain itu, PHE OSES juga membawa Bahrudin dan anggota KUB Mancing Bahagia ke Daerah Istimewa Yogyakarta untuk melakukan studi banding. Di sana, mereka belajar tentang manajemen usaha dan penguatan kelompok.
Kerajinan miniatur kapal dan umpan pancing hasil kreasi mereka dipasarkan di Pulau Kelapa dan Pulau Harapan. Sejak Juni 2024 hingga April 2025, total omzet penjualan mencapai sekitar Rp25 juta.
Bahrudin dan anggota KUB Mancing Bahagia tidak saja berprofesi sebagai nelayan dan pengrajin. Mereka juga adalah penjuang lingkungan, yang berperan aktif dalam menyuarakan kebersihan dan pelestarian lingkungan.
Mereka menyulap kayu, yang dulunya mengapung di lautan sebagai sampah menjadi berkah.***
Artikel Terkait
Kesepakatan Berlanjut, PHE ONWJ Akan Pasok Gas ke Refinery Unit VI Balongan Sampai 2029
PHE Sabet Penghargaan Bergengsi di IPA Convex 2025 Berkat Booth Paling Diminati
PHE ONWJ Tanam Modul Terumbu Karang Buatan ke-420 di Perairan Karawang
Dorong Swasembada Energi, PHE Catat Laju Eksplorasi Meningkat 37% dalam Tiga Tahun
PHE ONWJ dan PertaLife Insurance Perkuat Literasi Keuangan UMKM Binaan dan Masyarakat Pesisir
PHE Gandeng Sinopec dalam Studi CEOR untuk Tingkatkan Ketahanan Energi Nasional