“Dari 311 ton itu, lebih dari 70 persen masih mengandalkan TPA. Hanya sekitar 28 persen yang bisa dikelola oleh masyarakat dan pemerintah kota. Ini menjadi pekerjaan rumah bersama,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa pengelolaan dari hulu penting untuk menekan emisi gas metana yang dihasilkan dari timbunan sampah di TPA.
“Kegiatan ini sangat mendukung upaya pengurangan emisi karbon dan gas metana dari sampah yang menumpuk di TPA. Pengolahan sampah menjadi salah satu langkah nyata dalam mengurangi dampak perubahan iklim,” katanya.
Baca Juga: PT GDPS Buka Lowongan Sales & Marketing di Jakarta, Simak Kualifikasi dan Cara Daftarnya
Dukungan Pengelola Wisata
Ketua Pokdarwis Bagek Kembar, H. Sukendi, turut mengapresiasi program ini karena membantu pengelolaan sampah di kawasan wisata.
“Program ini sangat membantu masyarakat dan pelaku wisata di kawasan pesisir. Kami berharap edukasi dan pendampingan seperti ini terus berlanjut agar masyarakat semakin sadar bahwa sampah yang dikelola dengan baik dapat menjaga lingkungan sekaligus memberikan nilai ekonomi,” ujarnya.
Program ini menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam penerapan prinsip environmental, social, and governance (ESG), khususnya pada pengurangan emisi, penguatan ekonomi sirkular, serta pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasional. ***
Artikel Terkait
PLN EPI Group Raih Tiga Penghargaan di Listrik Indonesia Award 2026
PLN EPI Luncurkan Wellness Program, Dorong Produktivitas dan Gaya Hidup Sehat Pegawai
Rumah Bibit Biomassa PLN EPI Dorong Pertanian Modern di Gunungkidul
11th Annual LNG Supply, Transport & Storage Forum 2026, PLN EPI: LNG Jadi Pilar Transisi Energi Nasional
Hari Keanekaragaman Hayati, PLN EPI Tanam 2.500 Cemara Udang di Pesisir Lombok