Kabar BUMN - Pertamina Hulu Energi OSES (PHE OSES), yang beroperasi di wilayah Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, berkolaborasi dengan Kelompok Usaha Bersama (KUB) Mancing Bahagia menginisiasi program Pelaut Tangguh, akronim dari Peningkatan Pendapatan Nelayan yang Tanggap, Guyub, dan Humanis.
Fokus program Pelaut Tangguh adalah peningkatan pendapatan nelayan, yang dilakukan melalui dua pendekatan.
“Yakni optimalisasi tangkapan hasil laut melalui dukungan terhadap nelayan tangkap, dan menggagas sumber pendapatan alternatif,” jelas Head of Communication, Relations & CID PHE OSES Indra Darmawan.
Baca Juga: Grand Inna Tunjungan Hadirkan Balinese Food Festival III di Kota Pahlawan, Lebih Meriah dan Berkesan
Melalui program Pelaut Tangguh, PHE OSES memberikan bantuan kepada KUB Mancing Bahagia berupa mesin duplikator untuk membuat umpan kayu secara otomatis, dengan presisi dan lebih efisien.
Tak hanya itu, PHE OSES juga membangun bengkel workshop yang digunakan untuk mengolah dan mengkreasikan kayu-kayu sisa menjadi barang bernilai.
Program Pelaut Tangguh merupakan bentuk dukungan PHE OSES atas usaha pengolahan limbah kayu menjadi kerajinan yang sebelumnya telah dilakukan seorang nelayan Pulau Kelapa Dua, Bahrudin, dan KUB Mancing Bahagia.
Baca Juga: Dua Desa BSI di Makassar Andalkan Potensi Laut, Landak Laut Siap Ekspor
Inisiasi Bahrudin mengolah sampah kayu tersebut dampak meningkatnya populasi yang berimbas pada meningkatnya limbah yang dihasilkan di Pulau Kelapa Dua dan pulau-pulau di sekitarnya. Ia pun bergerak melakukan perubahan.
Dengan penuh tekad, Bahrudin mempelajari beragam cara untuk memanfaatkan limbah kayu. Ia mulai membentuk ragam kerajinan. Salah satunya membuat miniatur kapal dan umpan pancing, atau biasa disebut udang-udangan.
Kepiawaiannya dalam mengukir miniatur kapal seperti aslinya dan menirukan bentuk udang membuat nelayan-nelayan lain dari KUB Mancing Bahagia tertarik untuk turut mengolah limbah kayu.
Baca Juga: Lindungi Keanekaragaman Laut, Telkom Lepas 200 Tukik di Kapoposang
Hasil karya mereka dijual sebagai suvenir, yang bisa menambah penghasilan. Meningkatnya jumlah wisatawan di Kepulauan Seribu menjadi motivasi bagi mereka untuk meningkatkan pendapatan.
Di sisi lain, mereka pun menghadapi tantangan usaha, seperti keterbatasan sarana dan prasarana yang menimbulkan sejumlah rintangan, seperti masih rendahnya kontrol atas kualitas produk.