Kabar BUMN - PT PLN (Persero) kembali membuktikan komitmennya untuk meningkatkan kelistrikan nasional, kali ini untuk wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Hal ini dibuktikan dengan rampungnya konstruksi gardu induk 150 kilovolt (KV) Kalselteng 1 Town Freeder Transformator (TFT) di Desa Tumbang Kajuei, Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah.
Dengan beroperasinya gardu induk yang memiliki kapasitas 30 Mega Volt Ampere (MVA) tersebut, PT PLN tak hanya meningkatkan keandalan pasokan listrik, tapi juga menghemat Rp20,6 miliar.
General Manager Unit Induk Pembangunan Kalimantan Bagian Barat, Didik Mardiyanto, mengatakan bahwa gardu induk berkapasitas 30 Mega Volt Ampere ini akan mengalirkan pasokan listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) IPP Kalselteng 1 yang berkapasitas 200 Megawatt (MW).
Gardu Induk Kalselteng 1 TFT ini nantinya akan menyuplai listrik warga yang berada di Kecamatan Rungan dan Kecamatan Manuhing. Selain itu, gardu ini juga akan menyuplai listrik untuk wilayah Kabupaten Gunung Mas, serta juga warga lain di sekitarnya.
“Dengan hadirnya infrastruktur ini tentunya akan meningkatkan keandalan listrik bagi pelanggan. Kami berharap dengan suplai listrik yang maksimal dapat meningkatkan geliat ekonomi warga dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat," ujar Didik.
Bersamaan dengan rampungnya pembangunan Gardu Induk Kalselteng 1 TFT, PLN juga akan mengurangi penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Tumbang Jutuh dan Tumbang Telaken. Pengurangan PLTD ini merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan keandalan listrik dengan menghapuskan penggunaan pembangkit diesel dan menghubungkan sistem kelistrikan setempat dengan sistem kelistrikan Kalimantan.
Warga di kedua Desa tersebut sebelumnya menikmati listrik selama 18 jam per hari. Namun, setelah kini tersambung dengan sistem Kalimantan, sebanyak 2.850 pelanggan di kawasan tersebut dapat menikmati listrik selama 24 jam. PLN yang sebelumnya harus mengoperasikan PLTD untuk bisa melistriki masyarakat, kini dapat menekan penggunaan pembangkit diesel untuk mengalirkan listrik. Dengan adanya Gardu Induk ini, PLN dapat menghemat biaya operasional Rp20,6 miliar per tahun.
"Saat ini 2.850 pelanggan sebelumnya disuplai melalui PLTD Tumbang Jutuh dan Tumbang Telaken, Dengan hadirnya listrik PLN ini kami berharap aktivitas warga jadi semakin mudah, dan tentunya dapat mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat di Desa Tumbang Jutuh dan Desa Tumbang Telaken, serta desa-desa disekitarnya," kata Didik.
Dalam masa pembangunannya, Gardu Induk ini menelan investasi sebesar Rp12 miliar dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebesar 31,82 persen.
Lebih lanjut lagi, Didik menjelaskan bahwa Gardu Induk ini telah memperoleh Sertifikat Laik Operasi (SLO) dari PLN Pusat Sertifikasi. SLO merupakan bukti pengakuan formal suatu instalasi listrik telah berfungsi sesuai persyaratan yang ditentukan dan dinyatakan siap dioperasikan.
“Alhamdullilah GI 150 kV Kalselteng 1 TFT ini sudah mendapatkan SLO. Hal ini juga bermanfaat untuk memastikan instalasi listrik yang beroperasi sesuai standar keselamatan berlaku,” ujar Didik.
Tak hanya Gardu Induk 150 kV Kalselteng 1 yang memperoleh SLO, PT PLN juga berhasil mendapatkan SLO untuk proyek Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) Bangkanai (Peaker) Stage 2 Unit 13 berkapasitas 140 MW .
Setelah proyek ini, PT PLN juga memiliki target lain untuk diselesaikan, yaitu pembangunan jaringan interkoneksi antara sistem kelistrikan Barito di Kalimantan Tengah dan sistem Khatulistiwa di Kalimantan Barat. Pembangunan jaringan tersebut berupa proyek SUTT 150 kV Pangkalan Bun-Sukamara dan Sukamara-Kendawangan.
Hadirnya interkoneksi sistem kelistrikan di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat bertujuan agar setiap sistem kelistrikan di Kalimantan dapat terhubung dan saling menopang satu dengan lainnya.