Kabar BUMN - Suku Bugis memiliki cara istimewa dalam menyambut Hari Idulfiitri, yakni dengan melakukan tradisi Ma’burasa. Tradisi yang sudah dilakukan secara turun-temurun ini menjadi salah satu budaya sakral yang sarat akan nilai solidaritas dan kekeluargaan.
Kaya akan budaya dan suku bangsa, tidak heran jika Indonesia memiliki beragam tradisi Lebaran yang masih terjaga hingga saat ini. Dari banyaknya tradisi Lebaran di Indonesia, ada satu tradisi yang terkenal unik dan sarat makna, yaitu tradisi Ma’burasa.
Ma’burasa adalah salah satu tradisi Lebaran masyarakat suku Bugis dari Makassar, Sulawesi Selatan. Buat yang belum tahu, Ma’burasa berasal dari bahasa Bugis yang berarti membuat burasa atau buras, yaitu kuliner tradisional khas Lebaran di suku Bugis, Makassar.
Sekilas, burasa memiliki tampilan yang mirip dengan lontong. Bedanya, burasa terbuat dari beras dengan campuran santan dan sedikit garam. Bahkan, tidak jarang burasa dimasak dengan tambahan parutan kelapa dan gula. Kemudian, burasa akan dibungkus dengan daun pisang dan diikat dengan cara khusus agar benar-benar kencang.
Hidangan khas Lebaran ini terkenal dengan cita rasa yang gurih dan nikmat. Itu mengapa, burasa kerap digunakan sebagai pendamping makanan berkuah. Seperti coto Makassar, opor ayam, kari ayam, olahan daging dan telur, serta berbagai makanan khas Lebaran lainnya.
Makna Tradisi Lebaran Ma’burasa di Makassar
Ma’burasa tidak hanya sekadar membuat makanan khas Lebaran. Fakta menariknya, tradisi turun-temurun yang dilakukan oleh masyarakat Bugis menjelang Hari Idulfitri ini menyimpan makna yang sangat mendalam.
Sampai saat ini, Ma’burasa masih menjadi budaya dan tradisi sakral yang dipercaya dapat mempererat kekeluargaan di dalam rumah. Pasalnya, seluruh anggota keluarga, baik laki-laki maupun perempuan, diharuskan ikut membuat burasa dalam tradisi Ma’burasa menjelang Lebaran.
Awalnya, tradisi Ma’burasa dilakukan secara bersama-sama, karena membutuhkan waktu hingga delapan jam untuk membuat burasa. Namun, secara perlahan, kegiatan membuat burasa dapat membangun rasa kebersamaan, gotong royong, dan saling membantu terhadap sesama dengan tulus.
Menariknya lagi, tradisi Ma’burasa di Makassar juga dapat meningkatkan rasa solidaritas dan saling berbagi terhadap siapa saja. Pasalnya, setelah burasa jadi, seluruh masyarakat Bugis dan Makassar akan membaginya kepada orang atau keluarga yang kurang mampu.
Satu hal yang menjadi daya tarik tradisi Ma’burasa di Makassar adalah proses pembagian burasa kepada orang atau keluarga yang membutuhkan. Sebelum dibagikan, nantinya akan dilaksanakan ritual membaca doa yang dikenal dengan “Mabbaca-baca”.
Ritual membaca doa tersebut dimulai dengan menyuguhkan burasa kepada imam atau ustaz yang memimpin kegiatan membaca doa. Kegiatan membaca doa ini dilakukan sebagai bentuk syukur telah melalui Ramadan dengan lancar. Kemudian, doa bersama tersebut juga dilakukan sebagai harapan agar bisa berjumpa kembali dengan Ramadan tahun depan.
Setelah selesai, burasa bisa mulai dibagikan dan dikonsumsi bersama-sama. Kegiatan makan bersama ini ternyata juga dapat menumbuhkan rasa saling berbagi dan kebersamaan satu sama lain. Mengingat, setiap satu ikat burasa bisa disantap 2-3 orang secara bersamaan.