trending

Tips dari RS Pelni Untuk Masyarakat yang Sehari-hari Beraktivitas di Tengah Polusi Udara

Selasa, 22 Agustus 2023 | 17:00 WIB
Ilustrasi. Udara kota dengan polusi udara yang parah. (Andrew Main Oster/Pexels)

Kabar BUMN - Sempat menuding Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbasis batu bara atas memburuknya kualitas udara DKI Jakarta, fakta menunjukan ternyata sektor transportasi, terutama sepeda motor, yang menjadi biang kerok utama polusi kota di beberapa minggu terakhir.

Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI mengungkapkan, sepeda motor penghasil beban pencemaran per penumpang paling tinggi dibandingkan mobil pribadi, mobil penumpang, dan bus.

Populasi sepeda motor juga mencapai 78% dari total kendaraan bermotor di DKI Jakarta sebanyak 24,5 juta kendaraan, dengan pertumbuhan 1.046.837 sepeda motor per tahun.

Baca Juga: Kualitas Udara di Jakarta Sedang Buruk. Waspada! Ini Efeknya Bagi Kesehatan Penduduk

Menurut data WHO, seperti KabarBUMN.com kutip dari rspelni.co.id, polusi udara ini menyumbang sekitar 7 juta kematian dari seluruh dunia berdasarkan data pada tahun 2019.

Di Indonesia sendiri polusi udara menyumbang urutan kelima dari faktor risiko kematian di bawah hipertensi, gula darah tinggi, obesitas, dan merokok.

Di artikel tersebut, Dokter Spesialis Paru RS Pelni dr. Berly, Sp.P menguraikan, dampak-dampak yang terjadi pada manusia apabila terlalu sering terpapar polusi udara dimulai dari iritasi muka, seperti mata berair, hidung berair, kemudian bersin-bersin, sakit tenggorokan, hingga iritasi pada kulit.

Baca Juga: Awas! Polusi Udara Bisa Berdampak Negatif untuk Kesehatan Mata, Ini Cara Mencegahnya

Selain itu, lanjutnya, bisa juga terjadi pada paru dan pernapasan seperti gejala sesak nafas, batuk batuk. Kemudian, terjadinya risiko penyakit asma, pneumonia, sampai ke kanker paru.

Bisa juga terjadi risiko pada jantung dan pembuluh darah kemudian risiko penyakit stroke, pada ibu hamil terjadi risiko kelahiran dengan berat badan lahir rendah, kemudian gangguan kognitif pada anak sehingga menjadi stunting.

Lebih jauh, risiko yang terjadi bisa keracunan gas oksigen yang terhirup, kemudian pada pasien pasien yang mengalami sakit asma atau sakit pada otot atau jantung bisa terjadi perburukan gejala.

Baca Juga: Pakai Masker Saja Belum Cukup, Ini 5 Tips Jaga Kesehatan saat Kualitas Udara Buruk

Untuk menghindari polusi ini, dr. Berly menyarankan beberapa poin. Pertama, berperan aktif untuk mengurangi sumber polusi seperti beralih dari kendaraan pribadi ke moda transportasi massal.

Kedua, jangan membakar sampah secara sembarangan. Dan yang ketiga, meminimalkan paparan polusi udara seperti mengurangi aktivitas di luar ruangan. Kemudian hindari aktivitas berat termasuk olahraga di luar ruangan, serta menghindari area atau kawasan polusi udara.

Halaman:

Tags

Terkini