Kabar BUMN - Hasil uji produksi setelah operasi pengeboran sumur RNT DZ-25 memberikan hasil yang sangat baik, yaitu mencapai lebih dari 400 barel minyak per hari (barel oil per day/BOPD) atau 228% dari target awal dengan 5% kandungan air.
Pertamina EP (PEP) Rantau Field, bagian dari Subholding Upstream Pertamina, Regional Sumatera, Zona 1, sendiri berhasil menyelesaikan pengeboran sumur RNT DZ-25 pada 18 Agustus 2023.
Sumur tersebut ditajak pada 26 Juli 2023 menggunakan rig pengeboran TMMJ-12 dan menargetkan produksi minyak dari formasi Keutapang.
Baca Juga: Tertinggi Sejak 2008, Pertamina EP Tarakan Field Berhasil Produksikan Minyak Capai Total 2.700 BOPD
Selama pengerjaan pengeboran sumur RNT DZ-25, PEP Rantau Field berkomitmen menerapkan aspek HSSE, engineering, dan operasi sesuai dengan standar yang berlaku sehingga pengeboran dapat diselesaikan dengan baik tanpa terjadi kecelakaan kerja dan kendala lainnya.
Pjs. General Manager Zona 1 Tedjo Sumantri mengungkapkan terima kasihnya kepada semua pihak yang telah mendukung keberhasilan pengeboran sumur RNT DZ-25.
“Pencapaian ini akan membuka potensi untuk pengembangan lapangan Rantau berikutnya, dengan penambahan sumur-sumur baru, guna mendukung pencapaian target pemerintah, yaitu produksi minyak 1 juta BOPD di tahun 2030,” ujar Tedjo.
Baca Juga: PT Pertamina EP Berhasil Mencapai Target Produksi Migas di Pertengahan Tahun 2023
“Sumur RNT DZ-25 ini adalah sumur dengan natural flow pertama setelah 3 tahun pengeboran terakhir dan sekaligus sebagai sumur dengan produksi minyak tertinggi di PEP Rantau Field saat ini,” tambahnya.
Pada kesempatan terpisah, Kepala Perwakilan SKK Migas Sumatera Bagian Utara (Sumbagut), Rikky Rahmat Firdaus, mengapresiasi produksi dan lifting dari PEP Rantau Field sebagai bagian kontribusi minyak mentah dari wilayah Sumbagut.
Menurutnya, saat ini kontribusi wilayah Sumbagut terhadap produksi nasional mencapai 33% atau sebesar 203.888 BOPD.
Baca Juga: Tingkatkan Produksi Migas, Pertamina EP Tandatangani Amandamen Perjanjian KSO dengan Mitra
“Kami terus mendorong Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) untuk gencar melakukan pengeboran, sehingga dapat menambah produksi baru menggantikan produksi minyak mentah dari sumur-sumur lama,” terang Rikky.