Selain itu, ekuitas perusahaan juga menunjukkan peningkatan, dari US$1,25 juta menjadi US$1,93 juta atau setara dengan Rp29,8 miliar jika dibandingkan dengan akhir tahun 2022.
Baca Juga: Pencatatan Perdana Saham PGE, Targetkan Rp9 Triliun Investasi Energi Hijau
Hal ini menunjukkan bahwa PGE berada dalam posisi keuangan yang stabil dan mampu mengelola utang serta mencapai keuntungan.
Sementara itu, liabilitas perusahaan turun dari US$1,22 juta menjadi US$960 ribu atau setara dengan Rp14,8 miliar.
Pada kuartal III-2023, Pendapatan PGE Area Kamojang mencapai US$109,6 juta atau Rp1,6 triliun, menyumbang pendapatan terbesar bagi perusahaan, diikuti oleh PGE Area Ulubelu dengan pendapatan sebesar US$86,1 juta atau Rp1,3 triliun.
Baca Juga: Sukses Terapkan O&M, GDE Benchmarking ke PGE
PGE terus mengukuhkan posisinya sebagai perusahaan energi hijau kelas dunia dengan melakukan kerja sama strategis dengan berbagai pihak, termasuk PT Jasa Daya Chevron (Chevron) dalam pengembangan Way Ratai, Africa Geothermal International Limited (AGIL) untuk mengembangkan potensi panas bumi di Kenya, serta Geothermal Development Company (GDC).
"Pencapaian yang sangat baik ini akan memacu kami untuk terus tumbuh dan berkembang dalam menyediakan energi hijau bagi masyarakat Indonesia," tutup Nelwin.***