trending

Sempat Diterpa Isu Serangan Ransomware, KAI Tegaskan Sistem IT Aman

Jumat, 19 Januari 2024 | 15:30 WIB
KAI menambah perjalanan dan memperpanjang waktu operasional LRT Jabodebek jelang malam pergantian tahun, pada Minggu (31/12). (kai.id)

Ilustrasi - Kereta Api Indonesia

Kabar BUMN - PT Kereta Api Indonesia (Persero) akhirnya memberikan tanggapan terkait isu yang beredar terkait serangan Ransomware pada KAI.

Joni Martinus, VP Public Relations KAI menegaskan hingga saat ini belum ada bukti bahwa ada data KAI yang bocor seperti yang dinarasikan.

"Kami akan tetap melakukan investigasi secara mendalam untuk menelusuri isu tersebut," kata Joni.

PT KAI memastikan bahwa seluruh data KAI aman, dan hingga saat ini seluruh sistem operasional IT, pembelian tiket online KAI, serta layanan Face Recognition Boarding Gate di semua stasiun masih berjalan dengan baik.

Masyarakat juga tidak perlu khawatir dengan keamanan data pada fitur Face Recognition Boarding Gate yang dipergunakan oleh KAI. Sebab KAI telah memiliki manajemen keamanan informasi yang baik.

KAI sudah mengimplementasikan Sistem Manajemen Keamanan Informasi berstandar internasional ISO 27001 tentang Standardisasi Manajemen Keamanan Informasi.

Baca Juga: Jasa Marga Raih 3 Penghargaan Nasional Lingkungan Hidup Indonesia Green Awards 2024, Bukti Kesuksesan Program TJSL dengan Prinsip ESG Berkelanjutan

Untuk langkah lebih lanjut, KAI akan bekerja sama dengan pihak berwajib mengusut kasus tersebut. KAI berkomitmen tidak akan tunduk akan kejahatan pemerasan ini.

"KAI secara berkala terus meningkatkan keamanan siber demi kenyamanan para pelanggan untuk tetap menggunakan jasa transportasi massal kereta api yang nyaman, aman dan tepat waktu," tutup Joni.

Dikutip dari Kemenkeu.go.id, Ransomware merupakan perangkat lunak jahat yang dirancang untuk mengenkripsi data di dalam sistem atau perangkat, mencegah pemiliknya mengakses data tersebut.

Setelah berhasil mengenkripsi data, penyerang akan menampilkan pesan tebusan yang meminta pembayaran dalam bentuk kriptocurrency, seperti Bitcoin, sebagai imbalan pemulihan akses ke data yang dienkripsi.

Baca Juga: Tempat-tempat Wisata di Bali untuk Bulan Madu, Punya Suanasa Romantis dan Pemandangan Menakjubkan

Jika tebusan tidak dibayar, data tersebut mungkin hilang secara permanen atau dapat diperjualbelikan oleh penyerang.

Ransomware pertama kali muncul pada awal tahun 1990-an dan dikenal sebagai "AIDS Trojan" atau "PC Cyborg".

Halaman:

Tags

Terkini