Ia menegaskan, pemanfaatan serbuk limbah pengolahan tepung aren juga sebagai bukti jika program cofiring biomassa tidak membabat hutan justru jadi salah satu solusi dalam menangani pencemaran lingkungan dari limbah.
"Kami sangat mendukung program pengurangan emisi yang dilakukan PLN dan pemerintah karena pemanasan global adalah ancaman nyata yang sedang dihadapi dunia."
"Kami harap, pemanfaatan limbah pengolahan tepung aren ini bisa berkontribusi dalam upaya pemerintah mencapai NZE," tegasnya.
Hal senada juga dikatakan Direktur Biomassa PT PLN EPI, Antonius Aris Sudjatmiko.
Pada kesempatan itu ia menerangkan limbah pengolahan tepung aren yang sudah ditumpuk selama puluhan tahun tersebut akan menghasilkan gas metana.
Menurut dia, dalam hal emisi gas rumah kaca, metana berkalilipat lebih berbahaya dibandingkan CO2.
"Terlebih, dalam rantai pasok biomassa selalu melibatkan masyarakat sekitar jadi akan ada sirkular ekonomi."
"Dampak lainnya, tentu saja adalah pengurangan emisi untuk mencapai NZE seperti yang dicanangkan pemerintah," ucapnya.
Dijelaskan Antonius, uji bakar adalah fase awal sebelum dilakukan implementasi cofiring di PLTU.
Nantinya, hasil uji bakar akan dianalisa lebih dulu sebelum akhirnya diputuskan apakah serbuk limbah pengolahan tepung aren bisa digunakan langsung atau perlu diolah lebih lanjut untuk implementasi cofiring PLTU.
Di sisi lain ia menambahkan, selain memanfaatkan lahan kritis untuk penanaman pakan ternak dan sumber biomassa.
Saat ini PLN EPI sedang mengembangkan program Socio Tropical Agriculture-waste Biomassa atau STAB yang memanfaatkan limbah pertanian dan perkebunan seperti limbah padi, limbah bagasse tebu, limbah sagu termasuk limbah aren.