trending

Kunci Indonesia Keluar dari Middle Income Trap Menurut Dirut BRI

Senin, 14 Oktober 2024 | 19:30 WIB
Direktur Utama BRI Sunarso (DOK. BRI)

Kabar BUMN - Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) Sunarso mengungkapkan kunci agar Indonesia bisa keluar dari middle income trap (perangkap pendapatan menengah).

Untuk keluar dari jebakan pendapatan menengah, pendapatan per kapita Indonesia harus berada di atas US$4.465.

“Berdasarkan kajian Bappenas, Indonesia diperkirakan akan keluar dari jebakan kelas pendapatan menengah pada tahun 2041 jika asumsi rata-rata pertumbuhan ekonomi minimal 6% terpenuhi,” urainya.

Baca Juga: Aset Wealth Management Tumbuh 23,05 Persen, Nasabah BRI Prioritas Capai 161.000

Dalam kajian BRI, Sunarso mengungkapkan, faktor yang paling menentukan pertumbuhan ekonomi 6% adalah investasi pada human capital atau nilai ekonomi dari pengalaman dan keterampilan pekerja.

Pembentukan human capital ini didorong tiga faktor. Pertama, Indonesia harus fokus dalam memaksimalkan kebutuhan nutrisi dan pangan.

“Maka menjadi penting, kita fokus untuk memiliki strategi yang khusus, spesifik, dan visioner untuk masalah ketahanan pangan,” tambahnya.

Baca Juga: Pemberdayaan BRI Mendorong UMKM Pisang Sale Mades Optimal Mengolah Produk Kearifan Lokal

Kedua, negara punya tugas untuk menyejahterakan rakyat dan ini akan mendukung pertumbuhan ekonomi. Dia mengatakan, cara terbaik untuk menyejahterakan rakyat adalah dengan memberikan mereka pekerjaan.

“Jadi semua orang pada usia produktif memang harus bekerja. Kalau begitu, pemerataan kesempatan kerja itu menjadi penting,” kata Sunarso.

Untuk mendapatkan pemerataan kesempatan kerja dibutuhkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif, di mana di dalamnya juga ada unsur pemerataan serta partisipasi masyarakat untuk ikut tumbuh dan berkembang.

Baca Juga: BRI Kembali Gelar #SMEstaTalks, Bahas Strategi Jitu UMKM Menembus Pasar Global

“Investasi yang penting adalah human capital, dan kalau mau memperbaiki human capital, perbaiki dulu nutrisi dan pangan. Dan kemudian kita tunggu, untuk pemerataan butuh inklusivitas pertumbuhan,” pungkasnya.***

Tags

Terkini