Kabar BUMN - Berdasarkan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), pada tahun 2050 kebutuhan minyak dan gas akan terus meningkat. Di tengah proses transisi energi yang terus berjalan, kebutuhan minyak meningkat 139% dan kebutuhan gas meningkat 298%.
Di tahun itu, kebutuhan energi secara nasional diperkirakan mencapai sekitar 1.000 MTOE (Million tonnes of oil equivalent) dengan prosentase 44% berasal dari minyak dan gas, sehingga ada sekitar 440 MTOE yang harus dipenuhi.
Menyikapi kebutuhan energi migas yang tidak turun tapi justru terus meningkat, PT Pertamina Hulu Energi (PHE) memiliki tiga strategi utama.
Baca Juga: SKK Migas: PHE NSO Kembali Temukan Cadangan Migas di Lepas Pantai Aceh
Pertama adalah sustain, yaitu untuk area yang sudah mature (existing asset) akan terus dilakukan eksplorasi dengan konsep eksplorasi yang baru dan teknologi baru.
Kedua, kategori growth, di mana Pertamina aktif di open area karena memiliki peluang mendapatkan big fish, tentunya dengan risiko yang besar dan biaya yang besar.
Ketiga, melakukan kemitraan (partnership), yang dalam pelaksanannya tidak hanya sharing investasi tetapi juga sharing knowledge untuk menghasilkan hasil terbaik.
Baca Juga: PT Pertamina Hulu Rokan Catat Kinerja Gemilang di Tahun 2022
Direktur Eksplorasi Pertamina Hulu Energi Muharram Jaya Penguriseng, seperti KabarBUMN.com kutip dari rilis acara diskusi media yang diselenggarakan SKK Migas pada Rabu (17/5/23), menyampaikan bahwa tahun 2021 success ratio (SR) pengeboran oleh Pertamina sebesar 36%.
Di tahun 2022, SR ini meningkat menjadi 64,7% dan hingga Mei 2023 berhasil mencapai SR 100%. Temuan sumber daya pun berhasil ditemukan dalam beberapa pengeboran antara lain sumur GQX, Manpatu 1-X, dan WLL-001.
Diungkapkannya pula, potensi migas di Indonesia masih menjanjikan. Saat ini cekungan migas yang sudah disentuh 20% yaitu sudah punya license (Wilayah Kerja), yang sudah dibor lebih kecil lagi prosentasenya. Yang belum disentuh ada 80% sehingga secara peluang masih menarik.
Baca Juga: Pelindo Berikan Penambahan Diskon Tarif Jalan Tol Cibitung Cilincing Sampai Dengan 30 Juni 2023
Namun, upaya agresif PHE dalam melakukan aktivitas eksplorasi tidak terlepas dari tantangan yang harus dihadapi, di antaranya adalah perijinan dan pengadaan lahan, pengadaan, ketersediaan dan kesiapan rig, serta hal-hal yang terkait dengan teknis operasional dan subsurface.