Kerja sama ini berfokus pada dukungan pendanaan dan fasilitasi program strategis nasional untuk mempercepat pengembangan infrastruktur industri pertahanan di Indonesia.
Baca Juga: Cicil Emas Kini Semudah Buka Aplikasi, Yuk Coba di Tring! by Pegadaian
Kolaborasi tersebut diharapkan menjadi model kemitraan berkelanjutan antara sektor pendanaan publik dan industri strategis guna memperkuat rantai pasok nasional, meningkatkan nilai tambah sumber daya lokal, serta menciptakan dampak ekonomi yang signifikan, terutama di wilayah pengembangan fasilitas industri.
Penandatanganan kedua dilakukan antara Direktur Teknologi & Pengembangan PT Pindad, Prima Kharisma, dan Rektor ITB, Tatacipta Dirgantara.
Kerja sama ini menitikberatkan pada penguatan kapasitas riset dan pengembangan teknologi terapan di bidang manufaktur pertahanan.
Baca Juga: Kualitas WSBP Hadir di Proyek Gedung Ikonik Mandiri Financial Center PIK 2
Melalui kemitraan ini, ITB akan berperan dalam mendukung kegiatan penelitian, validasi proses produksi, serta peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM) di lingkungan industri strategis nasional.
Kolaborasi tersebut diharapkan mampu mempercepat transfer teknologi, mendorong hilirisasi hasil riset, dan memastikan inovasi nasional dapat diimplementasikan langsung di lini produksi PT Pindad.
PT Pindad menegaskan komitmennya untuk terus bertransformasi menjadi perusahaan pertahanan nasional modern dan berdaya saing global.
Baca Juga: Jangan Lewatkan Borobudur Sunrise: Saat Mentari Membangunkan Stupa-Stupa Tua
Sementara BPDP memperkuat perannya dalam mendukung pembiayaan proyek industri bernilai strategis nasional, dan ITB menegaskan posisinya sebagai pusat riset unggulan yang aktif mendorong pengembangan teknologi nasional melalui kolaborasi lintas sektor.
Kerja sama ini merupakan tindak lanjut dari pembahasan sebelumnya dan menjadi wujud nyata penerapan konsep triple-helix collaboration, di mana pemerintah dan lembaga pendanaan berperan sebagai fasilitator kebijakan dan penyedia dukungan finansial, akademisi sebagai pusat riset dan inovasi teknologi, serta industri sebagai penggerak implementasi dan komersialisasi hasil inovasi.
Pendekatan kolaboratif ini menjadi kunci untuk membangun kemandirian industri pertahanan yang terintegrasi, efisien, dan berkelanjutan.
Melalui sinergi ini, Indonesia diharapkan mampu memperkuat kemampuan manufaktur pertahanan secara mandiri, mengurangi ketergantungan terhadap impor komponen strategis, serta memperluas kapasitas riset dan inovasi berbasis sumber daya nasional.