Kabar BUMN - Project Integration Manager Pengembangan Translasi Produk Life Science, Neni Nurainy, menyampaikan berbagai perkembangan vaksin di Bio Farma, termasuk mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan pengembangan teknologi mRNA dalam bentuk wawancara rekaman video yang dilakukan pada pertemuan WHO/Medicine Patent Pool (MPP) Technology Transfer Program tanggal 17-21 April di Cape Town, Afrika Selatan.
Pada pertemuan WHO/MPP Technology Transfer Program, setiap perwakilan negara penerima teknologi mRNA ( Spoke ) dari WHO/MPP menyampaikan kemampuan terkait program pengembangan mRNA di masing-masing negara. Terdapat 15 negara penerima teknologi mRNA dari WHO/MPP.
”Bio Farma saat ini bekerja sama dengan Universitas Manchester, Inggris dalam penguasaan berbasis pengetahuan bagaimana terkait mRNA. Di samping itu delegasi Indonesia dari Bio Farma telah mendapat pelatihan dari mRNA Technology Transfer Hub yaitu Afrigen, Afrika Selatan pada April 2022. Bio Farma dan beberapa negara Spoke telah menerima Introductory Package dari WHO/MPP untuk pembentukan teknologi mRNA pada skala Riset dan Pengembangan,” papar Neni.
Baca Juga: Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan, SUCOFINDO Beri Bantuan Pengolahan Sampah di Desa Pesaren
Selain itu, Neni menyampaikan, program mRNA yang saat ini berjalan di Bio Farma menggunakan Covid-19 sebagai model penyakit.
Terdapat berbagai target penyakit untuk pengembangan vaksin yang direncanakan diantaranya Tuberkulosis (TB), DBD, Malaria yang merupakan penyakit yang masih menjadi kendala kesehatan di Indonesia.
Pada kesempatan pertemuan di Cape Town, Bio Farma menyampaikan kerjasama antara Akademisi, Bisnis & Pemerintahan, termasuk dukungan pemerintah RI dalam bentuk dana Penanaman Modal Negara (PMN) untuk fasilitas mRNA skala Pilot .
Baca Juga: Telkomsel Ajak Content Creator Tambah Penghasilan dengan Menjadi Sales Affiliate di TikTok
Di sisi lain, sidang World Health Assembly tahun ini akan menentukan masa depan WHO dalam waktu dekat dan jangka panjang.
Terlebih lagi, dunia menghadapi keadaan darurat kesehatan dan kemanusiaan yang sedang berlangsung. Maka dari itu, adanya rapat kesehatan World Health Assembly ke-76 akan lebih fokus pada mendorong kesehatan untuk semua.
Dari sidang sidang pada 22 Mei 2023, Anggota Negara-negara menyetujui Anggaran Program WHO untuk 2024-2025, berkomitmen untuk meningkatkan 20% dari kontribusi yang dinilai (biaya penghematan). Delegasi juga akan membahas tentang peran penting yang dimiliki WHO dalam Arsitektur Darurat Kesehatan Global.
Baca Juga: Sukses Dalam Penanganan dan Komersialisasi Gypsum, Petrokimia Gresik Dapat Apresiasi IFA
WFA merupakan badan pengambil keputusan WHO. Sidang ini rumit oleh delegasi dari seluruh anggota negara yang berfokus pada agenda kesehatan tertentu yang disiapkan oleh Dewan Eksekutif.
WFA diselenggarakan untuk menentukan kebijakan Organisasi, menunjuk Direktur Jenderal, mengawasi kebijakan keuangan, dan meninjau serta menyetujui program anggaran yang diusulkan.