“Pertamina telah memberikan akses Energi Baru Terbarukan (EBT) sebagai solusi atas tantangan kebutuhan energi masyarakat yang semakin meningkat, yang sejalan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).
Baca Juga: 7 Tips Mempersiapkan Diri Sebelum Menjalani Psikotes dalam Proses Rekrutmen dari Pertamina
"Program yang kami susun disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat dengan tetap berpegang pada pengembangan pilar sosial, ekonomi, lingkungan dan tata kelola,” ungkap Fadjar, seperti dikutip KabarBUMN.com dari pertamina.com.
Melalui program Desa Energi Berdikari, Pertamina memberikan akses EBT sebagai solusi atas tantangan kebutuhan energi yang semakin meningkat, dan diimplementasikan bersama masyarakat.
Hingga akhir tahun 2022, terdapat 47 program Desa Energi Berdikari, yang memberikan manfaat kepada 2.750 kepala keluarga.
Juga meningkatan pendapatan masyarakat hingga lebih dari Rp1,8 Miliar per tahun
Selain itu, program ini juga telah berkontribusi terhadap penurunan emisi sebesar 530.000 ton CO2 equivalent total reduksi emisi karbon per tahun.
Total energi yang dihasilkan dalam program ini berupa pembangkit Listrik Tenaga Surya 110.000 Wp, Pembangkit Listrik Tenaga Hybrid (matahari dan angin) 16.200 Wp, Gas Methana dan Biogas 605.000 m3 per tahun, Micro Hydro (pemanfaatan Aliran Air) 8.000 Watt, serta Biodiesel 6.500 liter per tahun.
Dengan adanya Desa Energi Berdikari ini diharapkan dapat menumbuhkan program pemberdayaan masyarakat, baik pemberdayaan di bidang Pendidikan, Ekonomi, dan Lingkungan dengan tujuan kemandirian ekonomi dan energi.
Pertamina sebagai perusahaan pemimpin di bidang transisi energi, berkomitmen dalam mendukung target Net Zero Emission 2060 dengan terus mendorong program-program yang berdampak langsung pada capaian Sustainable Development Goals (SDGs).
Seluruh upaya tersebut sejalan dengan penerapan Environmental, Social & Governance (ESG) di seluruh lini bisnis dan operasi Pertamina.