Kabar BUMN - Upaya pemulihan laut tak selalu terlihat dari permukaan.
Di bawah air, struktur buatan perlahan menjadi rumah baru bagi biota yang kembali mencari tempat hidup.
Sepanjang 2025, PT TIMAH Tbk menurunkan 1.920 unit artificial reef di perairan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Baca Juga: PT MUM Buka Lowongan Kerja Staf Financial Planning di Jakarta Selatan, Simak Kualifikasinya
Struktur berbentuk kubah menyerupai tudung saji ini dirancang sebagai habitat baru bagi ikan dan organisme laut lainnya, sekaligus membantu membentuk kembali ekosistem di dasar perairan.
Program ini dijalankan di 11 lokasi, meliputi Perairan Rambak, Rebo, Tuing, Pulau Lampu, Tanjung Melala, Malang Gantang, Tanjung Ular, Karang Aji, Pulau Pelepas, Pulau Panjang, hingga Perairan Kubu.
Wilayah tersebut tersebar di Kabupaten Bangka, Bangka Barat, Bangka Tengah, dan Bangka Selatan.
Baca Juga: Whoosh Beri Waktu 15 Menit untuk Reschedule, Penumpang Lebih Tenang
Melalui penenggelaman artificial reef, area yang sebelumnya terdampak aktivitas kini diarahkan untuk kembali memiliki fungsi ekologis.
Terumbu buatan ini diharapkan menjadi tempat berlindung, mencari makan, dan berkembang biak bagi biota laut, sehingga keberlanjutan wilayah pesisir tetap terjaga.
Dosen Ilmu Kelautan Universitas Bangka Belitung Indra Ambalika Syari Indra Ambalika, menjelaskan keberadaan artificial reef tersebut telah memberikan dampak positif bagi ekosistem laut.
Baca Juga: Cari Kartu Imlek yang Fungsional Sekaligus Estetik? Ini Dia Mandiri e-Money 2026
Titik penenggelaman yang awalnya berupa hamparan pasir kini berkembang menjadi habitat baru yang secara alami ditempeli biota laut, baik tumbuhan maupun hewan.
“Di lokasi artificial reef sudah banyak biota laut yang bermain, berkumpul, mencari makan, melakukan pemijahan (spawning), menempelkan telur, hingga proses pembesaran.