"Dari sisi ekologi, artificial reef ini memang ditujukan untuk membentuk habitat baru bagi biota laut di dasar perairan,” jelas Indra, Senin (10/2/2026).
Baca Juga: KAI Hadirkan Diskon 30% untuk Tiket Mudik Lebaran 2026, Berlaku untuk KA Ekonomi Komersial
Tak hanya berdampak ekologis, program reklamasi laut PT TIMAH Tbk juga berbasis pemberdayaan masyarakat lokal.
Mulai dari pembuatan rangka artificial reef yang melibatkan masyarakat setempat, pengangkutan menggunakan perahu nelayan lokal, hingga proses penenggelaman yang mempekerjakan tenaga kerja dari masyarakat sekitar.
“Secara langsung program ini memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat. Selain itu, habitat baru yang terbentuk juga menjadi fishing ground baru bagi nelayan,” ujar Indra.
Baca Juga: PEPC Zona 12 Ajak Jurnalis Hidup Sehat, Perkuat Sinergi Lewat Olahraga Bersama
Berdasarkan hasil monitoring, pengukuran biomassa ikan konsumsi di titik penenggelaman artificial reef menunjukkan hasil yang signifikan.
“Biomassa ikan yang lazim dikonsumsi masyarakat tercatat lebih dari 600 kilogram per hektare di lokasi baru artificial reef,” tambahnya.
Indra menegaskan, program reklamasi laut yang dilakukan PT TIMAH Tbk merupakan bentuk tanggung jawab lingkungan perusahaan atas aktivitas penambangan laut.
Meski demikian, ia menilai program ini perlu terus dievaluasi dan disempurnakan agar manfaatnya semakin berkelanjutan bagi lingkungan dan masyarakat.
“Program ini seharusnya menjadi pemantik dan role model bagi perusahaan-perusahaan lain, khususnya industri pertambangan timah, agar turut bertanggung jawab terhadap dampak lingkungan laut,” katanya.
Melalui reklamasi laut, PT TIMAH Tbk menegaskan tanggung jawab lingkungan sebagai bagian dari prinsip keberlanjutan yang dilakukan perusahaan.
Baca Juga: Ide Ucapan Hari Raya Imlek Tahun Kuda dalam Bahasa Inggris Beserta Artinya
Program ini diharapkan mampu memberikan manfaat jangka panjang bagi ekosistem laut dan masyarakat pesisir.***