Kabar BUMN - Pengelolaan Kereta Cepat Whoosh memasuki babak baru dengan dominasi tenaga kerja Indonesia dalam operasionalnya.
Sebanyak 574 personel nasional kini telah menguasai sekitar 80 persen proses operasional dan perawatan.
Capaian ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan kemandirian transportasi berkecepatan tinggi di Indonesia.
Baca Juga: Tiket KAI Periode Lebaran 2026 Laris Manis, 1,65 Juta Kursi Sudah Terjual
Proses alih kelola atau handover tersebut menunjukkan kesiapan Indonesia dalam mengoperasikan kereta cepat secara mandiri.
Dari total personel yang terlibat, 144 orang menjalankan fungsi operasional, termasuk 66 masinis serta 31 petugas pusat kendali operasi yang mengatur perjalanan kereta secara real time.
Sementara itu, 80 personel bertanggung jawab atas perawatan rangkaian kereta, dan 350 lainnya memastikan kesiapan jalur, jembatan, terowongan, sistem kelistrikan, persinyalan, serta komunikasi agar perjalanan tetap aman dan tepat waktu.
Baca Juga: Mudik Lebih Hemat Pakai Promo PayDay DAMRI, Nikmati Diskon 20% Khusus Tanggal 25 Februari 2026
Dalam fase transisi ini, KAI Group turut memperkuat proses alih kompetensi dengan menugaskan 191 pegawai perbantuan.
Mereka terdiri dari 154 pegawai KAI Induk dan 37 pegawai KAI Commuter. Penugasan ini bertujuan menjaga kesinambungan standar keselamatan dan mutu layanan selama masa pengalihan tanggung jawab operasional.
Percepatan transfer pengetahuan juga menjadi sorotan dalam proses ini. Jika di Tiongkok tahapan serupa dapat berlangsung hingga tiga tahun, pengoperasian Whoosh mampu menyelesaikannya dalam waktu sekitar 1,5 tahun.
Baca Juga: PTP Nonpetikemas Borong Gold Award LCAP Vision Awards 2024/25, Bukti Kualitas Laporan Bertaraf Dunia
Hal tersebut dimungkinkan karena para masinis yang terlibat merupakan masinis KAI berpengalaman dengan jam terbang minimal 3.000 jam atau setara 100.000 kilometer perjalanan kereta konvensional.
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menyampaikan bahwa penyelesaian handover mencerminkan kematangan SDM nasional dalam mengelola layanan berteknologi tinggi.
“Sebanyak 574 SDM Indonesia kini mengelola 80 persen operasional Whoosh. Ini menunjukkan bahwa kompetensi dan disiplin tenaga nasional mampu memenuhi tuntutan layanan kereta cepat dengan standar keselamatan yang tinggi."