Kabar BUMN - Di sebuah kampung di kawasan Jatiwangi, suara mesin cetak dan dentingan tanah liat masih menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari.
Di tempat itulah usaha genteng milik Hena Gian Hermana terus bertahan, meneruskan tradisi industri genteng yang sudah berjalan sejak 1985.
Usaha yang dimulai dari halaman rumah sederhana itu awalnya hadir karena tingginya permintaan genteng tanah liat pada masa lalu.
Baca Juga: Hutama Karya Evaluasi Arus Kendaraan di Tol Palembang–Betung, Skema Lalu Lintas Diperbarui
Saat itu, produksi pabrik-pabrik genteng di Jatiwangi belum mampu memenuhi kebutuhan pasar. Namun perjalanan usaha ini tidak selalu mudah.
Persaingan produk modern, biaya produksi yang terus naik, keterbatasan bahan baku, hingga berkurangnya tenaga kerja membuat banyak pabrik genteng di daerah tersebut akhirnya berhenti beroperasi.
Gian mengaku usaha genteng memang penuh tantangan.
Baca Juga: Harga Tiket Taman Safari Bogor Saat Libur Lebaran 2026, Cek Rinciannya
Meski begitu, ia tetap berusaha mempertahankan produksi dengan berbagai cara agar usahanya tidak ikut tenggelam di tengah perubahan zaman.
Perkembangan usaha mulai terasa ketika Gian mendapatkan akses pembiayaan melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.
Tambahan modal tersebut dimanfaatkannya untuk membeli mesin cetak yang lebih modern serta memperbaiki tungku pembakaran agar proses produksi menjadi lebih efisien.
Baca Juga: Kirim Motor ke Kampung Halaman, Layanan KAI Logistik Makin Diminati
Hasilnya, kapasitas produksi meningkat dan kualitas genteng yang dihasilkan menjadi lebih konsisten.
“BRI ini tentu menjadi mitra utama bagi para pelaku usaha pabrik genteng, karena BRI memiliki fasilitas pinjaman bunga rendah KUR bagi para pelaku usaha UMKM seperti kami, sehingga kami senantiasa bisa terus melakukan produksi genteng,” urainya.