Bank Mandiri didirikan pada 2 Oktober 1998, sebagai bagian dari program restrukturisasi perbankan yang dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia. Pada bulan Juli 1999, empat bank pemerintah; Bank Bumi Daya, Bank Dagang Negara, Bank Ekspor Impor Indonesia dan Bank Pembangunan Indonesia dilebur menjadi Bank Mandiri.
Dalam masa transisi menyatukan semua sistem, sistem Bank Exim dipilih untuk digunakan pada tahun 1999 hingga 2001. Pada tahun 2003 – 2004 sistem tersebut diubah lagi menjadi sistem Bank Mandiri saat semua sistem telah disatukan.
Mandiri Dulu dan Kini
Dalam perkembangannya dulu dan kini, sekarang Bank Mandiri telah sukses membentuk organisasi bank yang solid dan telah mampu mengimplementasikan core banking system yang sudah terintegrasi. Itu artinya Bank Mandiri telah mengganti core banking system keempat bank legacy yang dulunya terpisah.
Lewat kegigihan yang tak pernah putus dan upaya terus-menerus, Bank Mandiri berhasil mendaulatkan diri sebagai salah satu perusahaan dan tempat kerja terbaik di dunia. Ini dibuktikan dengan rekam prestasi, kemampuan bertahan di tengah krisis ekonomi finansial, serta tantangan-tantangan lainnya.
Sampai dengan Desember 2015 tercatat sudah kalau Bank Mandiri telah memberikan lapangan kerja bagi 36.737 karyawan dengan 457 kantor cabang dan 7 kantor cabang, perwakilan dan perusahaan anak di luar negeri. Selain itu, bank ini juga memiliki layanan distribusi yang dilengkapi dengan:
- 388 ATM
- 957 ATM dalam jaringan ATM Link, ATM Bersama, ATM Prima, dan Visa / Plus
- 861 Mesin Electronic Data Capture (EDC)
- Jaringan elektronik yang terdiri dari Internet Banking, SMS Banking, dan Call Center
Sejak didirikan, kinerja Bank Mandiri senantiasa mengalami perbaikan terlihat dari laba yang terus meningkat dari Rp1,18 triliun di tahun 2000 hingga mencapai Rp5,3 triliun di tahun 2004. Bank Mandiri melakukan penawaran saham perdana pada 14 Juli 2003 sebesar 20% atau ekuivalen dengan 4 miliar lembar saham.
Tahun 2005 menjadi titik balik bagi Bank Mandiri, dimana Bank Mandiri memutuskan untuk menjadi bank yang unggul di regional atau regional champion Bank, yang diwujudkan dalam program transformasi yang dilaksanakan melalui 4 (empat) strategi utama, yaitu:
- Implementasi budaya. Strategi ini dilakukan melalui restrukturisasi dalam organisasi yang didasarkan oleh kinerja, penataan ulang sistem penilaian berbasis kinerja, pengembangan leadership dan talent. Tak lupa juga penyesuaian sumber daya manusia dengan kebutuhan strategis dari perusahaan.
- Pengendalian tingkat NPL secara agresif. Bank Mandiri fokus pada penanganan kredit macet dan memperkuat sistem manajemen risiko. Pertumbuhan pasar melalui strategi dan value proposition yang menonjol untuk setiap segmen.
- Meningkatkan pertumbuhan bisnis yang diatas rata-rata. Pertumbuhan pasar melalui strategi dan value proposition yang distinctive untuk setiap segmentasi.
- Pengembangan dan pengelolaan program aliansi. antar Direktorat atau Unit Bisnis dalam rangka optimalisasi layanan kepada nasabah, serta untuk lebih menggali potensi bisnis nasabah-nasabah eksisting maupun value chain dari nasabah-nasabah dimaksud.
Bank Mandiri juga melakukan transformasi budaya dengan merumuskan kembali nilai-nilai budaya untuk menjadi pedoman pegawai dalam berperilaku, yaitu 5 (lima) nilai budaya perusahaan yang disebut “TIPCE” yang dijabarkan menjadi:
- Kepercayaan (Trust)
- Integritas (Integrity)
- Profesionalisme (Professionalism)
- Fokus Pada Pelanggan (Customer Focus)
- dan Kesempurnaan (Excellence).
Prestasi Bank Mandiri
Bank Mandiri terus memperkuat peran sebagai lembaga intermediasi untuk mendorong perekonomian nasional. Hal itu ditunjukkan dengan pertumbuhan kredit sebesar 12,2% pada akhir 2014 menjadi Rp.530 triliun dari Rp.472,4 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya, dengan rasio NPL terjaga di level 2,15 %.
Pertumbuhan penyaluran kredit itu mendorong peningkatan aset menjadi Rp.855 triliun dari Rp733,1 triliun pada Desember 2013. Sedangkan laba bersih pada 2014 tercatat tumbuh 9,2 % menjadi Rp19,9 triliun atau naik Rp1.7 triliun jika dibandingkan akhir 2013 sebesar Rp.18,2 triliun. Selain pertumbuhan kredit, laju kenaikan laba bersih juga ditopang oleh pertumbuhan fee based income yang mencapai Rp15.06 triliun pada tahun 2014.
Laju kenaikan laba juga ditopang pertumbuhan bunga bersih sebesar 15,7% menjadi Rp 39,1 triliun dan kenaikan fee based income sebesar 3,9 % sehingga mencapai Rp.15,06 triliun. Dari capaian laba tersebut, kontribusi anak perusahaan mencapai 9.1% % atau sebesar Rp1,81 triliun.
Sebagai implementasi fungsi intermediasi dalam mendukung perekonomian nasional, Bank Mandiri juga terus memacu pembiayaan ke sektor produktif. Hasilnya, pada akhir 2014, kredit ke sektor produktif tumbuh 13.9 % mencapai Rp 410,6 triliun. dimana kredit investasi tumbuh 9,1 % dan kredit modal kerja tumbuh 16,7%.
Dilihat dari segmentasi, kenaikan penyaluran kredit terjadi di seluruh bisnis, dengan pertumbuhan tertinggi pada segmen mikro yang mencapai 33,2% menjadi Rp.36 triliun pada Desember 2014. Sementara itu, kredit yang tersalurkan untuk segmen usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) mencatat pertumbuhan sebesar 13,6 % menjadi Rp 73,4 triliun.
Bank Mandiri juga turut menyalurkan pembiayaan khusus dengan skema penjaminan pemerintah, yaitu melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR). Hingga akhir 2014, jumlah nasabah KUR Bank Mandiri meningkat 34 % yoy mencapai 396 ribu nasabah.
Pemberdayaan Startup
Bank Mandiri memaksimalkan peran anak usaha yang bergerak sebagai modal ventura untuk melakukan pendanaan pada startup yakni Mandiri Capital. Mandiri Capital Indonesia (MCI) telah berinvestasi atau penyertaan saham senilai total Rp1 triliun kepada 14 startups di bidang teknologi finansial (tekfin) sejak berdiri 5 tahun lalu. Investasi tersebut dilakukan ke beberapa subsektor tekfin seperti platform pinjaman online (P2P Lending), pembayaran, dan solusi bisnis.
Mandiri Capital telah mendorong berbagai inovasi dan sinergi dengan Mandiri Group, seperti penyaluran modal (loan channeling) ke lebih dari puluhan ribu segmen UMKM, baik dari sektor bisnis konvensional hingga pertanian.
Bersamaan dengan itu, Mandiri Capital telah membantu mengembangkan digitalisasi UMKM, baik dari sisi pembayaran maupun dukungan sistem lainnya, seperti proses akuntansi dan sumber daya manusia (HR), serta penggunaan digital signature sebagai bentuk efisiensi proses bisnis.
Pada platform P2P lending, Mandiri Capital telah berinvestasi di Amartha, Crowde, KoinWorks, dan Investree. Untuk pembayaran, investasi Mandiri Capital telah dilakukan di platform LinkAja, Yokke, PTEN dan DAM. Sementara pada tekfin solusi bisnis, investasi dilakukan di Mekari, PrivyID, Cashlez, Gojek, Iseller dan Halofina.
Anda juga dapat melihat berbagai profil inspiratif BUMN dalam negeri dengan klik tautan berikut ini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Editor: Redaksi
Terkini
Senin, 17 November 2025 | 19:30 WIB
Jumat, 10 Oktober 2025 | 12:30 WIB
Selasa, 26 Agustus 2025 | 16:00 WIB
Kamis, 26 Juni 2025 | 09:30 WIB
Jumat, 9 Mei 2025 | 06:00 WIB
Jumat, 27 Desember 2024 | 12:30 WIB
Kamis, 26 Desember 2024 | 15:00 WIB
Minggu, 10 Maret 2024 | 12:00 WIB
Jumat, 27 Oktober 2023 | 11:00 WIB
Kamis, 15 Juni 2023 | 14:53 WIB
Senin, 5 Juni 2023 | 09:00 WIB
Senin, 21 November 2022 | 10:00 WIB
Rabu, 26 Oktober 2022 | 13:06 WIB
Rabu, 10 Agustus 2022 | 11:00 WIB
Kamis, 9 Juni 2022 | 12:34 WIB
Senin, 14 Maret 2022 | 16:01 WIB
Senin, 7 Maret 2022 | 17:00 WIB
Jumat, 4 Maret 2022 | 17:00 WIB
Jumat, 25 Februari 2022 | 17:00 WIB
Jumat, 25 Februari 2022 | 11:00 WIB