lipsus

Alexandra Askandar, Cetak SDM Berdaya Saing Global Bersama FHCI

Sabtu, 17 April 2021 | 00:18 WIB
Sebagai wadah bagi para manajemen SDM BUMN, Forum Human Capital Indonesia mengemban peranan penting untuk mengembangkan sumber daya manusia di Indonesia agar dapat bersaing di dunia global. Alexandra Askandar sebagai ketua umum FHCI, menyadari betul akan hal ini. Perempuan yang juga menjabat sebagai Wakil Direktur Utama Bank Mandiri ini memiliki visi dan misi, serta program kerja yang matang untuk menghadapi kondisi globalisasi dan digitalisasi di era industri 4.0. Artikel ini akan mengupas lebih dalam sosok Alexandra Askandar.

Siapakah Alexandra Askandar? 

Alexandra Askandar telah membangun karir sejak 2006 sebagai Vice President Corporate Banking III Group Bank Mandiri, menjadi Senior Vice President Corporate Banking V Group Bank Mandiri pada 2009, menjadi SEVP Corporate Banking pada 2016, menjadi Direction of Institutional Relation pada 2018, menjadi Director of Corporate Banking pada 2019, hingga menjabat Deputy CEO pada 2020. Wanita 48 tahun ini juga tercatat telah menyelesaikan studinya di Universitas Indonesia jurusan Ekonomi, serta MBA di Boston University. Meski mengemban dua peran sebagai ketua umum FHCI sekaligus Wadirut Bank Mandiri, wanita kelahiran Medan, 9 Januari 1972 ini memiliki optimisme tinggi untuk memegang teguh kepercayaan yang telah diberikan. Optimisme tersebut membawanya pada satu tujuan utama yaitu untuk menghasilkan perubahan SDM yang lebih baik untuk Indonesia. Untuk mencapai tujuan tersebut, tentunya Alexandra berharap dukungan dan kerjasama yang baik dari seluruh pengurus FHCI, serta sinergi yang kuat antara BUMN dan KBUMN.  Wanita kelahiran Medan, 9 Januari 1972 ini mengusung program kerja yang berfokus pada 3 pilar, yaitu Leadership Development, Attract & Retain Best Talent, serta Character Building. Ketiga pilar tersebut diharapkan dapat membangun talent SDM yang berkualitas dunia untuk Indonesia, sehingga juga dapat menjadikan perusahaan BUMN sebagai pemain kelas dunia. Apalagi, dengan adanya UU Cipta Kerja dapat meningkatkan kesempatan talent asing ke Indonesia, sehingga talent lokal perlu didorong untuk meningkatkan skill dan daya saingnya.

Visi dan Misi Forum Human Capital Indonesia 

Dengan mengusung visi “Menjadi Forum Pembelajaran Untuk Menghasilkan Human Capital Indonesia, khususnya BUMN yang berdaya saing global,” Alexandra Askandar ingin menjadikan FHCI sebagai organisasi inspiratif yang mencetak Sumber Daya Manusia yang kompetitif, inovatif, serta mampu bersaing di tingkat global dalam menciptakan bisnis yang tumbuh berkelanjutan. Beberapa langkah konkrit yang diagendakan untuk mencapai visi tersebut antara lain; 
  • Melakukan riset strategis untuk memberikan masukan multi perspektif terhadap pengembangan Human Capital BUMN dan Indonesia
  • Bekerja sama dengan BUMN lain dan pihak eksternal untuk memperkuat sinergi dan memberikan nilai tambah bagi Human Capital BUMN dan Indonesia
  • Menerapkan program pengembangan Sumber Daya Manusia di lingkungan BUMN dan masyarakat Indonesia. 
  • FHCI juga dapat menjadi wadah bagi para manajemen BUMN untuk bertukar informasi terkait sistem dan strategi Manajemen Sumber Daya Manusia melalui benchmarking, magang, dan berbagi praktik terbaik. 
  • Melaksanakan program sosial untuk mengembangkan kepedulian sosial, nasionalisme dan memperkuat karakter.

Tantangan di Era Industri 4.0 dan Upaya Mengatasinya

Berbagai agenda dan goals tersebut tentunya bukan tanpa hambatan dalam proses penerapannya. Beberapa tantangan yang harus dihadapi di era industri 4.0 ini antara lain digitalisasi dan perkembangan AI yang mendisrupsi bisnis dan kebutuhan SDM, kondisi VUCA dan globalisasi menyebabkan beberapa perusahaan gagal dalam beradaptasi dan bertahan, investasi yang tidak hanya berfokus pada return, adanya disparitas kapabilitas antar pegawai kelas BUMN yang berbeda, hingga UU Cipta Kerja yang menuntut SDM lokal untuk meningkatkan skill dan daya saing. Namun, Alexandra Askandar beserta segenap pengurus FHCI juga telah menyiapkan beberapa langkah untuk menghadapi tantangan tersebut, berbagai program kerja yang diagendakan antara lain:
  • Merencanakan rebranding BUMN untuk menginspirasi talenta muda dan untuk membangun Indonesia melalui berkarya di BUMN. Hal ini diyakininya dapat memancing banyak potensi dari talenta muda untuk dapat meningkatkan daya saing BUMN.
  • Pemberdayaan perempuan (salah satunya melalui program Srikandi) dan peningkatan keterwakilan jumlah Wanita serta Milenial ke senior management yang terus akan diupayakan.
  • Melakukan penyelarasan kebijakan Human Capital dan implementasinya dalam rangka mendukung sinergi yang lebih optimal antara BUMN dan KBUMN 
  • Melakukan akselerasi program untuk mengembangkan talenta dari Indonesia Timur agar mengoptimalkan SDM yang dimiliki Indonesia secara menyeluruh dan tidak hanya terpusat di satu area saja. 
  • Dalam hal investasi, Alexandra memiliki program untuk menjadikan SDG (Sustainability Development Goals) sebagai salah satu pertimbangan utama bagi BUMN kedepannya untuk mendukung perjalanan BUMN menjadi global players.
Pada dasarnya, posisi FHCI sebagai partner strategis dari KBUMN dan mitra kerja bagi perusahaan-perusahaan BUMN diharapkan dapat membantu BUMN untuk meningkatkan dan mengembangkan sumber daya manusia agar mampu bersaing di pasar global. FHCI berperan sebagai pemberi masukan dalam menyampaikan aspirasi dan isu di lapangan, juga sebagai fasilitator yang membantu mengimplementasikan inisiatif-inisiatif di human capital BUMN.

Terkini

Tiga Tahun Menjadi Nakhoda BUMN

Rabu, 26 Oktober 2022 | 13:06 WIB

Selangkah Menuju Pertemuan Petinggi Dunia

Rabu, 10 Agustus 2022 | 11:00 WIB

G20: Dari Kopi Hingga Kesejahteraan Petani

Kamis, 9 Juni 2022 | 12:34 WIB

PLTA Poso, Pembangkit EBT Terbesar di Indonesia Timur

Jumat, 25 Februari 2022 | 17:00 WIB