lipsus

Lokananta, Arti, Fungsi, dan Penampilannya Kini Setelah Revitalisasi

Senin, 5 Juni 2023 | 09:00 WIB
Gedung Lokananta (surakarta.go.id)

Sejarah Lokananta
Berdiri sejak 1956, Lokananta awalnya mengemban tugas memproduksi sekaligus mendistribusikan materi siaran Radio Republik Indonesia (RRI) dalam bentuk piringan hitam.

Piringan hitam itu kemudian disebarluaskan ke stasiun RRI seluruh Indonesia.

Kepala Jawatan RRI saat itu, R. Maladi, lalu berinisiatif mendirikan pabrik piringan hitam dengan harapan agar lagu barat tidak mendominasi siaran RRI.

Baca Juga: Pantauan ASDP: Penyeberangan Merak-Bakauheni dan Ketapang-Gilimanuk Saat Libur Panjang Ramai Lancar

Maka, pada 29 Oktober 1956, Lokananta resmi berdiri dengan nama lengkap Pabrik Piringan Hitam Lokananta Jawatan Radio Kementerian Penerangan Republik Indonesia di Surakarta.

Perusahaan rekaman ini sempat mengalami kejayaan di tahun 1970-1980-an dengan mengorbitkan sejumlah legenda musik Indonesia, seperti Gesang, Waldjinah, Bing Slamet, Titiek Puspa, dan Sam Saimun.

Sayangnya, seiring perkembangan zaman dan teknologi, Lokananta tak bisa mengikuti perkembangan tersebut dan justru vakum bahkan terbengkalai pada era 1990-an.

Baca Juga: Karyawan Pegadaian Dianugerahi Penghargaan Indonesia Customer Service Quality Award 2023

Lokananta Kini
Lokananta berlokasi di Jalan Ahmad Yani, Kerten, Laweyan, Solo, dengan luas kawasan mencapai 2,1 hektar.

Selain studio seluas 14 x 31 meter yang memungkinkan untuk menggelar rekaman live dengan tata akustik ruangan yang mumpuni, Lokananta menyediakan tempat untuk kegiatan pentas musik, diskusi, workshop, dan lain-lain.

Lokananta juga selalu membuka pintu museumnya bagi pengunjung yang ingin melihat koleksi piringan hitamnya.

Baca Juga: Tiga Tahun Menjadi Nakhoda BUMN

Menteri BUMN Erick Thohir di salah satu ruang budaya di Gedung Cagar Budaya Lokananta. (Twitter/@KemenBUMN)

Setelah revitalisasi, perusahaan rekaman ini kini memiliki tujuh arena, yakni galeri, studio, live house, taman lingkar, panggung amphitheater, area ritel F & B, dan area ritel kreatif (non F & B).

Sesuai yang disampaikan Erick, harapannya ke depan Lokananta akan menjadi ruang pertunjukan, ruang publik, sampai kepada tempat pemberdayaan UKM dan UMKM. Satu destinasi musik, budaya, dan wisata baru.***

Halaman:

Tags

Terkini

Tiga Tahun Menjadi Nakhoda BUMN

Rabu, 26 Oktober 2022 | 13:06 WIB

Selangkah Menuju Pertemuan Petinggi Dunia

Rabu, 10 Agustus 2022 | 11:00 WIB

G20: Dari Kopi Hingga Kesejahteraan Petani

Kamis, 9 Juni 2022 | 12:34 WIB

PLTA Poso, Pembangkit EBT Terbesar di Indonesia Timur

Jumat, 25 Februari 2022 | 17:00 WIB