Kabar BUMN - PT Pertamina (Persero) mengambil langkah-langkah prioritas dalam pengembangan bahan bakar rendah karbon dan energi baru terbarukan.
Hal tersebut dilakukan untuk menghadapi trilemma energy.
Selain itu, Pertamina menilai hal ini sesuai dengan situasi yang dihadapi Indonesia sebagai negara berkembang.
Dalam acara Plenary Session Indonesia Sustainability Forum (ISF) 2023, Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati menegaskan bahwa faktor utama dalam pengembangan bahan bakar rendah karbon dan energi baru terbarukan adalah teknologi, ekonomi, dan regulasi.
Baca Juga: Agar Tidur Lebih Nyenyak, Terapkan Kebiasaan Minum Ini di Malam Hari
Nicke menyebut ada beberapa faktor yang mengakibatkan tingginya harga bahan bakar rendah karbon.
Pertama adalah teknologi dimana dengan pengembangan teknologi dapat menurunkan belanja modal (CAPEX) dan belanja operasional (OPEX).
"Teknologi akan lebih efisien dalam penggunaan air, energi, dan konsumsi bahan baku sangat penting."
"Selain itu, juga penting adalah teknologi yang dapat mengolah bahan baku menjadi generasi kedua, mengatasi limbah dari bahan baku," tutur Nicke.
Baca Juga: Tidur Pakai Guling Ternyata Punya Manfaat yang Luar Biasa
Faktor kedua menurut Nicke adalah pengembangan ekosistem.
Nicke mengatakan dalam pengembangan produk baru diperlukan pendekatan holistik dimulai dari rantai pasokan yang lebih panjang hingga ekosistem secara keseluruhan.
Kemampuan menjadi faktor ketiga yang disebut oleh Nicke.
Pertamina memerlukan kemampuan ekonomi untuk memulai pengembangan produk.
Artikel Terkait
5 Rekomendasi Wisata Gratis di Kuala Lumpur, Budget Hemat, Keseruan Didapat
ASEAN Dorong Transisi Energi Bersih, PHR Hadirkan PLTS 25 Megawatt di Blok Rokan
Perkembangannya Sesuai Target, Jasa Tirta I Targetkan SPAM Bango Beroperasi 200 LPS di Desember 2023