Pertamina Nyalakan Harapan di Ujung Papua, Kampung Adat Malasigi Kini Berdikari Energi

Photo Author
Amalia R, Kabar BUMN
- Rabu, 6 Agustus 2025 | 08:00 WIB
Pertamina bantu Kampung Adat Malasigi Papua mandiri energi lewat PLTS, dorong swasembada dan ekonomi desa, serta turunkan emisi karbon hingga 9 ton. (Dok. Pertamina)
Pertamina bantu Kampung Adat Malasigi Papua mandiri energi lewat PLTS, dorong swasembada dan ekonomi desa, serta turunkan emisi karbon hingga 9 ton. (Dok. Pertamina)

Kabar BUMN - Setiap tahun, Indonesia kehilangan lebih dari 100 ribu hektare lahan pertanian karena alih fungsi lahan, menurut data Kementerian Pertanian.

Sebagian besar berubah menjadi kawasan permukiman, pertokoan, dan sebagainya. Akibatnya, produksi padi turun dari 59,7 juta ton pada 2017 menjadi 54,3 juta ton pada 2022.

Dampak dari kondisi ini juga dirasakan oleh warga Kampung Adat Malasigi di Distrik Klayili, Kabupaten Sorong.

Baca Juga: Cokelat Buatan Indonesia, Ada yang Sudah Menembus Pasar Internasional

"Alih fungsi lahan, ditambah keterbatasan infrastruktur dan akses terhadap kebutuhan dasar, mengancam keberlangsungan hidup kami di Kampung Adat Malasigi yang terdiri dari 54 orang masyarakat adat Moi Kelim," ujar Absalom Dominggus Kalami.

PT Pertamina (Persero) melalui Pertamina EP Papua Field mengambil langkah konkret untuk mendukung kehidupan masyarakat Malasigi dengan menghadirkan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang bertajuk Desa Energi Berdikari (DEB).

Program ini memperkenalkan pemanfaatan energi terbarukan demi mendukung peningkatan kualitas ekonomi, sosial, dan lingkungan di pedesaan.

Baca Juga: Pertamina dan PLN Garap 19 Proyek Panas Bumi, Dorong Transisi Energi Nasional

"Melalui bantuan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan pelatihan dari Pertamina, kami mengolah air sungai menjadi air bersih."

"PLTS menggerakkan pompa untuk mengalirkan sumber mata air yang berjarak kurang lebih 800 meter dari lokasi penyaringan. Sehingga masyarakat bisa mendapat air bersih sekitar 15 liter per dua hari," ujar Absalom.

Lewat program ini, Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Belempe mengembangkan pengelolaan Kampung Malasigi dengan mengintegrasikan berbagai unit usaha.

Baca Juga: PLN 123 Sabet 8 Penghargaan di Ajang Global Contact Center World Awards 2025

Termasuk ekowisata minat khusus seperti bird watching, agroforestry, serta usaha pengolahan produk lokal seperti keripik pisang dan anyaman noken Belempe.

"Penggunaan PLTS yang berkapasitas 8,7 kwp dengan baterai 10 kwh, dapat mengurangi beban biaya kebutuhan air bersih sekitar 36 juta rupiah per tahun."

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Amalia R

Tags

Artikel Terkait

Terkini