The Golo Mori Perkuat Ekosistem Inklusif Lewat Workshop Isu Kedisabilitasan

Photo Author
Amalia R, Kabar BUMN
- Jumat, 28 November 2025 | 09:30 WIB
The Golo Mori fasilitasi workshop isu kedisabilitasan untuk perkuat ekosistem inklusif dan kolaborasi lintas sektor di Labuan Bajo. (Dok. ITDC)
The Golo Mori fasilitasi workshop isu kedisabilitasan untuk perkuat ekosistem inklusif dan kolaborasi lintas sektor di Labuan Bajo. (Dok. ITDC)

Kabar BUMN – The Golo Mori menjadi tempat penyelenggaraan Workshop Pengenalan Isu-isu Kedisabilitasan bagi para pemangku kepentingan yang diselenggarakan oleh Yayasan Kita Juga (SANKITA) pada Kamis (27/11) di Beach Shelter, Kawasan The Golo Mori.

SANKITA sendiri merupakan organisasi sosial yang berfokus pada pemberdayaan penyandang disabilitas di Kabupaten Manggarai Barat, Labuan Bajo, NTT.

Kegiatan ini berfungsi sebagai sarana kolaborasi lintas sektor yang mempertemukan unsur pemerintah, dunia pendidikan, tenaga kesehatan, pelaku usaha, tokoh masyarakat, hingga perwakilan penyandang disabilitas.

Baca Juga: Pertamina Bergerak Cepat Bantu Korban Banjir dan Longsor di Sumatera Utara

Tujuannya adalah memperkuat pemahaman bersama mengenai pentingnya menciptakan ekosistem sosial yang inklusif, adaptif, dan menghargai keberagaman di wilayah pesisir selatan Labuan Bajo.

General Manager The Golo Mori, Aji Munarwiyanto, menegaskan bahwa inklusivitas adalah komponen besar dalam arah pembangunan destinasi berkelanjutan yang dikembangkan di kawasan ini.

“Ketika setiap kelompok masyarakat, termasuk penyandang disabilitas, memiliki akses dan kesempatan yang setara, maka daya saing kawasan akan tumbuh secara lebih kokoh dan bermakna,” ujarnya.

Baca Juga: Batuk Berdahak Tak Kunjung Reda? Ini Cara Mengatasinya Secara Alami

Dari sudut pandang pemberdayaan, Direktur Yayasan Kita Juga (SANKITA) menyampaikan hasil asesmen lapangan yang dilakukan sejak Mei 2025.

Temuan tersebut mengungkapkan bahwa penyandang disabilitas di tiga desa binaan, Desa Golo Mori, Desa Warloka, dan Desa Pantar, masih menghadapi kesenjangan dalam pemenuhan kebutuhan dasar.

Keterbatasan tersebut mencakup akses layanan kesehatan, pendidikan, fasilitas penunjang, hingga alat bantu adaptif, sehingga menegaskan perlunya peningkatan literasi dan kapasitas masyarakat terkait isu kedisabilitasan.

Baca Juga: Siap Bangun Karier? Magang Akuntansi & Arsip Digital di PPI Menanti Kamu!

Berdasarkan kondisi tersebut, lokakarya disusun untuk membangun pemahaman bersama mengenai konsep kedisabilitasan, cara pandang masyarakat inklusif, hingga strategi menciptakan ruang sosial yang lebih ramah dan dapat diakses semua pihak.

Melalui kombinasi sesi materi, diskusi kelompok, dan perumusan rencana aksi, peserta dari berbagai sektor memperdalam tantangan yang dihadapi penyandang disabilitas sekaligus menyusun langkah kolaboratif untuk menghadirkan akses dan kesempatan yang lebih setara di tingkat komunitas.

The Golo Mori menempatkan nilai-nilai inklusi sosial sebagai landasan penting dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan yang terus diperkokoh di kawasan ini.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Amalia R

Tags

Artikel Terkait

Terkini