Kolaborasi kedua entitas ini akan berlanjut dengan pengembangan 7 konsesi lainnya.
Baca Juga: Pertamina Hulu Energi Buktikan Kinerja Ekselen Menuju Perusahaan Kelas Dunia
Secara total, proyek kerja sama ini berpotensi menurunkan 7 juta ton CO2e per tahun, atau secara kumulatif 20 juta ton kredit karbon sampai dengan tahun 2030.
Perdagangan karbon kredit yang dilakukan Pertamina NRE berbasis pada NBS dan solusi teknologi.
Contoh perdagangan karbon kredit berbasis solusi teknologi adalah dengan pemanfaatan pembangkit listrik energi terbarukan sebagai sumber carbon offset.
Baca Juga: Canggih Plus Ramah Lingkungan, Jakarta Integrated Green Terminal Siap Dibangun Pertamina di Kalibaru
Perdagangan karbon kredit berbasis solusi teknologi sudah dilakukan sejak tahun 2011 oleh Pertamina Geothermal Energy (PGE) yang merupakan anak usaha Pertamina NRE.
Saat ini Pertamina NRE telah menandatangani kerja sama dengan anak usaha Pertamina lainnya, yaitu Pertamina Patra Niaga untuk perdagangan karbon kredit.
Pertamina Patra Niaga membeli karbon kredit dari Pertamina NRE dengan volume 1,8 juta ton emisi karbon ekuivalen untuk periode satu tahun.
Baca Juga: Gunakan Konsep Smart City Forest, Pertamina Bakal Bangun Berbagai Infrastruktur Penting di IKN
Sumber yang ditunjuk carbon offset adalah pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) Lahendong unit 5 dan 6 berkapasitas 2x20 MW yang dikelola oleh PGE.
Fadli menambahkan bahwa ada 3 tantangan utama dalam perdagangan kredit karbon yang semuanya berkaitan dengan waktu yaitu pertama, berkejar dengan waktu untuk dapat menjalankan 9 konsesi NBS.
Kedua, waktu untuk menunggu terbitnya regulasi pemerintah terkait perdagangan karbon.
Saat ini Pertamina NRE terus berkoordinasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan terkait regulasi.