Beberapa di antaranya adalah membatalkan rencana pembangunan 13,3 Gigawatt (GW) pembangkit batubara, mengganti 1,1 GW pembangkit batubara dengan EBT.
Baca Juga: Siap Lanjutkan Program Asset Recycling, Jasa Marga Buka Opsi Strategic Partnership dalam AIPF 2023
"Kami sedang dalam proses merancang dan mendesain ulang perencanaan ketenagalistrikan nasional," tutur Darmawan.
"Dengan sistem baru ini, kami memahami adanya ketidaksesuaian antara sebagian besar sumber EBT dengan pusat beban sehingga kami akan membangun green enabling super grid untuk menghubungkannya," lanjutnya.
Saat ini PLN juga sedang dalam proses mendesain dan membangun end-to-end smart grid.
Dengan jaringan baru ini, PLN dapat meningkatkan porsi pembangkit energi surya dan angin dari 5 GW menjadi 28 GW.
Baca Juga: Kurangi Perubahan Iklim, Pertamina Paparkan Dua Strategi di AIPF 2023
Sistem inilah yang ke depan akan digunakan untuk mendukung pembangunan ASEAN Power Grid.
Nantinya sistem ini diproyeksikan mampu menghubungkan transmisi lintas negara-negara di ASEAN, mulai dari Laos, Vietnam, Kamboja, Malaysia, Singapura dan Indonesia.
"ASEAN Power Grid bukan hanya soal listrik, namun hal ini mencerminkan kekuatan baru ASEAN," kata Darmawan.
"Mencerminkan perubahan ASEAN yang sebelumnya terfragmentasi menjadi ASEAN yang bersatu, demi satu tujuan, kemakmuran bagi kawasan Asia Tenggara," tandasnya.