Melalui rehabilitasi mangrove diharapkan tumbuh benteng hijau di pesisir Indonesia yang sekaligus menjadi aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.
“Penandatanganan kerja sama ini merupakan bagian dari aksi konkrit pengendalian perubahan iklim, yang dilakukan bersama-sama lintas kementerian dan lembaga sesuai dengan kapasitas, kewenangan, tugas, dan fungsi masing-masing pihak,” ujar Nani.
Ia menambahkan, program rehabilitasi mangrove 600.000 hektar merupakan program rehabilitasi yang terbesar di dunia.
Baca Juga: PLN Gandeng Pupuk Indonesia dan ACWA Power Siap Bangun Pabrik Hidrogen Terbesar di Indonesia
Untuk itu program ini tidak hanya menanam, tapi juga memelihara.
Termasuk merawat biodiversitas dalam ekosistem mangrove.
Juga mengembangkan pemberdayaan masyarakat.
Baca Juga: Hadir di Forum ASEAN-Indo-Pacific, Dirut PLN Suarakan Kolaborasi Global Wujudkan Transisi Energi
Hal ini agar masyarakat dapat menerima manfaat mangrove sekaligus turut memeliharanya.
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengungkapkan, pihaknya menyambut baik atas kerja sama yang dilakukan.
Darmawan memandang, kerja sama ini menjadi bukti nyata komitmen PLN untuk melestarikan lingkungan dan memastikan bumi layak huni bagi generasi saat ini dan mendatang.
Baca Juga: AIPF 2023 Resmi Dibuka, PLN Paparkan Green Enabling Supergrid hingga Proyek PLTS Terapung Cirata
Hal ini tentunya juga menguatkan posisi PLN dalam menjalankan prinsip Environmental, Social and Governance (ESG) yang telah dilakukan selama ini.
”Kami menyambut baik kerja sama ini, sebagai pedoman kemitraan nasional dalam meningkatkan sinergi dan koordinasi antar lembaga, dalam upaya kegiatan pelestarian lingkungan dan ekosistem mangrove.
"Hal ini merupakan implementasi prinsip ESG yang dijalankan PLN guna mewujudkan pembangunan berkelanjutan pada pilar ekonomi dan lingkungan,” ujar Darmawan.