Darmawan menegaskan, upaya mendorong proyek EBT bakal terus berlanjut ke depannya.
Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan PLN Wiluyo Kusdwiharto mengungkapkan, energi listrik dari dua PLTM ini dapat menjadi sumber pasokan listrik wilayah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Barat (Sulselrabar).
"Selain sumber pasokan listrik, diharapkan dapat meningkatkan kondisi sistem operasi kelistrikan di wilayah Sulselrabar," ungkap Wiluyo.
Adapun, PLTM Salu Noling dan PLTM Tomoni termasuk dalam proyek pembangkit EBT yang direncanakan dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2021-2030.
Baca Juga: PalmCo Regional 3 Kebun Tandun Berbagi Kebahagiaan dengan Anak Yatim Piatu
Wiluyo melanjutkan, selain meningkatkan bauran EBT, kedua proyek yang listriknya akan diserap PLN ini akan mendorong pengurangan konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) serta menurunkan emisi CO2.
PLTM Salu Noling dan PLTM Tomoni ditargetkan beroperasi komersil atau Commercial Operations Date (COD) pada 2026 mendatang.
Wiluyo melanjutkan, proyek PLTSa Kota Pelembang mendorong pemanfaatan sampah mencapai 1.000 ton per hari.
Kehadiran proyek ini bekontribusi pada peningkatan bauran EBT serta penurunan emisi karbon sekitar 111 ribu ton CO2 per tahun.
Director of Investment Zheneng Jinjiang Environment, Liu Tian menilai kerja sama ini merupakan bentuk kemitraan untuk pengembangan energi terbarukan dan program lingkungan hidup di Indonesia.
Menurutnya, dengan sepak terjang perusahaan dalam menangani limbah, kerja sama dengan PLN dapat berjalan dengan baik.
"Kami bersedia berbagi pengetahuan dan pengalaman pengelolaan teknologi sebagai kontribusi terhadap perlindungan lingkungan hidup Indonesia, termasuk untuk mendukung Pemerintah Indonesia dalam mengurangi sampah melalui program emisi karbon," ujar Liu Tian.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Palembang Akhmad Mustain mengucapkan kebersyukuran atas proses panjang dari keberadaan PLTSa di kotanya sejak 2017.