Kabar BUMN - Tidak seperti sekarang, dulu Lasar Bratas Kota Surabaya sepi pembeli.
Bukannya tanpa sebab, itu karena bau tidak sedap dari sampah yang membuat orang-orang enggan mendekat ke pasar, apalagi membeli dagangannya.
Demikian kondisi lapak para pedagang bunga yang menjual tanaman hias di lahan pembuangan sampah.
Baca Juga: Bisa Kerja di BUMN Walaupun Status Masih Mahasiswa, Yuk Lamar Magang di BRI Ventures
Ketua Klaster Bunga Bratang, Agus Subali bercerita awalnya memang tempat yang dijadikan para pedagang bunga untuk mencari penghasilan itu adalah lokasi pembuangan sampah sementara dari masyarakat sekitar.
"Kemudian ada beberapa orang sesepuh kami yang membuka lahan sebagai lapak (menjual tanaman).
"Lama kelamaan muncul komunitas penjual bunga," ujar Agus.
Baca Juga: BRI Raih Most Innovative Tech dari Finance Asia, Bukti BRImo Semakin Unggul!
Lantaran punya kepentingan yang sama, yaitu sama-sama ingin memiliki tempat berjualan yang nyaman, sekaligus memperbaiki perekonomian, Klaster Bunga Bratang pun mulai terbentuk.
Anggota Klaster Bunga Bratang berinisiatif agar lokasi mereka berjualan bisa semakin dikenal masyarakat luas dan ramai pembeli.
Melihat potensi yang dimiliki Klaster Bunga Bratang, sekitar empat tahun lalu BRI pun memberikan bantuan.
Baca Juga: BRI Tampilkan Perjalanan Transformasi Digital di Product Development Conference 2024
Alhasil, kini lapak milik 70 pedagang di Klaster Bunga Bratang pun telah berubah signifikan.
"Di sini kami sudah 35 tahun menjadi pedagang bunga.