"Diperlukan suatu pembangkit yang tadinya manual menjadi digital, yang slow response menjadi fast response."
"Kemudian dalam proses itu, bagaimana memonitor operasional dari pembangkit itu tadinya manual, diubah menjadi digital,” sambung Darmawan.
Direktur Utama PLN NP Ruly Firmansyah menjelaskan bahwa NIC akan menjadi pusat big data PLN NP yang berfungsi sebagai integrator dan koordinator aktivitas operasional perusahaan.
Baca Juga: Hebat! Enam Pembalap Indonesia Menang di Race Pertama ARRC Round 4 2024
NIC diharapkan menjadi sumber informasi tunggal yang terverifikasi yang diperlukan dalam analisis persoalan dan pengambilan keputusan.
Dulu, informasi operasional perusahaan terfragmentasi, monitoring dilakukan secara terpisah-pisah.
Dengan jumlah 621 mesin pembangkit yang dikelola, hal ini tentu menyulitkan manajemen dalam mengambil keputusan strategis.
Baca Juga: Ide Bisnis yang Bisa Dijalankan Usai Pensiun, Tetap Produktif di Masa Tua
"Kini dengan hadirnya NIC, semua terkonsolidasi, seluruh informasi bisa dilihat di sini," kata Ruly.
"Kami di jajaran manajemen PLN NP akan mampu mendapatkan gambaran komprehensif bagi pengambilan keputusan yang cepat dan akurat,” tutup Ruly.
Dalam program NIC dashboard yang memiliki berfungsi sebagai pusat informasi dan pengendali operasional pembangkit EBT, kinerja dan operasional pembangkit, kinerja korporat, serta capaian proyek.
Seluruh informasi dan pengendalian operasi tersebut dilakukan secara realtime.
Dengan beroperasinya NIC, Ruly berharap pihaknya dapat menciptakan nilai-nilai baru yang akan memajukan perusahaan.
"Satu hal lagi yang membuat kita bangga dengan launching NIC ini adalah kami dapat mendukung transformasi moonshot di PLN Group untuk menjadi top 500 global company dan nomor 1 pilihan pelanggan untuk solusi energi," tutup Ruly.***