Menurut Dimita, komitmennya untuk menjaga lingkungan disambut baik oleh konsumennya. Produknya diminati para generasi Z, terutama baju luaran berbahan tenun dengan desain sederhana, yang kaya akan budaya nusantara.
Darabaro mengadopsi teknik jait boro dari Jepang yaitu teknik jahit menggabungkan beberapa sisa limbah untuk dijadikan kain kembali dengan cara dijahit mesin atau tangan.
Selain Darabaro, UMKM binaan Pertamina lainnya yang turut serta dalam bazar kali ini adalah Griya Kain Solo.
UMKM ini terkenal dengan produksi kain batik berkualitas tinggi, yang mencakup berbagai motif seperti batik tulis, batik cap, batik print, hingga batik songket.
Griya Kain Solo menghadirkan batik dengan tema sederhana, nyaman, dan menawan, menjadikan setiap karyanya unik dan bernilai seni tinggi.
Terdapat juga Shokha, produsen mukena dan kerudung dengan pilihan bahan yang nyaman serta desain yang elegan dan kekinian, sehingga digemari konsumen yang mencari produk religius dan juga modis.
Baca Juga: Simak! Jadwal, Rute, dan Harga DAMRI dari Bandara Juanda Surabaya
VP Corporate Communication Pertamina, Fadjar Djoko Santoso, mengatakan partisipasi Pertamina dalam Bazar ini salah satu wujud nyata kepedulian Pertamina terhadap lingkungan.
Terutama karena Mitra Binaan Pertamina yang berpartisipasi pada pameran banyak menggunakan bahan-bahan alami, serta mengelola limbah produksinya dengan baik.
Pameran ini menjadi ajang sosialisasi publik tentang pentingnya memanfaatkan produk fesyen berkelanjutan.
Baca Juga: Pertamina Berdayakan Nelayan Kepulauan Seribu, Program CID Berjalan Sukses
“Kami melibatkan UMKM yang mengelola limbah sisa produksinya dalam pameran ini, menunjukkan bahwa Pertamina tidak hanya fokus pada energi, tetapi juga mendukung inisiatif-inisiatif yang berkontribusi pada pelestarian lingkungan,” ujar Fadjar.
Pertamina berharap bahwa partisipasinya dalam Bazar Merdeka ini dapat menciptakan nilai tambah untuk produk-produk berkelanjutan.***