Hal ini juga sesuai dengan perjanjian pengembangan bersama (Joint Development Agreement) yang telah ditandatangani pada Desember 2023.
Project Company ini akan bertindak sebagai entitas penjual yang bertanggung jawab atas produksi dan pengelolaan hidrogen hijau.
Hidrogen hijau yang dihasilkan akan dipasok kepada Pupuk Indonesia dan mitra lainnya melalui kontrak jangka panjang selama 25 tahun.
Hidrogen hijau tersebut dihasilkan melalui proses elektrolisis air yang didukung oleh energi terbarukan, sehingga menjamin rendahnya intensitas karbon dari hidrogen yang dihasilkan.
Kolaborasi ini juga sejalan dengan inisiatif Green Economy Pioneer 10 Years Roadmap Kementerian BUMN, yang mendorong sinergi antar BUMN untuk memimpin transisi energi hijau di Indonesia.
Hidrogen hijau yang dihasilkan dari proyek ini akan digunakan sebagai bahan baku pembuatan amonia hijau, yang merupakan komponen penting dalam produk pupuk yang lebih ramah lingkungan.
Lebih lanjut Rahmad mengungkapkan, “Pupuk Indonesia menyadari adanya tanggung jawab besar untuk mendukung pencapaian natural carbon emission."
Ia melanjutkan, "Oleh karenanya, kami melakukan langkah-langkah strategis dan juga langkah-langkah taktis untuk bisa mengurangi carbon emission dari kegiatan perusahaan.”
Inisiatif ini mendorong pengembangan teknologi hidrogen dan amonia hijau sekaligus berkontribusi terhadap pengurangan emisi global.
Kerja sama strategis ini akan menciptakan dampak positif jangka panjang bagi lingkungan dan generasi mendatang, menjawab kebutuhan dunia akan produk-produk yang semakin berkelanjutan.***