Kabar BUMN - Matahari baru saja beranjak dari peraduan, sinar keemasannya terpantul di permukaan air laut. Sesekali gelombang air menggulung tertiup angin. Jauh di ujung horizon tampak empat titik kecil bercahaya pendar.
Bergerak mendekat diayun ombak, wujudnya semakin terlihat. Ternyata empat sosok manusia. Dengan suara teriakan yang terbawa angin, tangan-tangan mereka melambai cepat mengisyaratkan permintaan tolong.
Mereka adalah Haris, Aji, Udin dan Wanto. Para nelayan yang diambang putus asa. Sudah dua hari keempatnya terombang-ambing di tengah laut.
Baca Juga: Telkomsel Bagi-bagi Mobil Mercedes Benz Gratis di Undian Poin Gembira Festival 2024
Sebelumnya, para nelayan ini bertolak dari Kuala Penet menuju Pulau Segama, Lampung Timur, pada pertangahan September lalu.
Namun perjalanan mereka terganggu angin yang bertiup kencang. Keadaan diperparah dengan GPS yang rusak, sehingga mereka kehilangan arah.
Beruntung, kapal Anchor Handling Tug and Supply (AHTS) Harrier, milik PHE OSES, yang sedang berpatroli di wilayah anjungan lepas pantai dan sumur migas Krisna berhasil mendeteksi sinyal lampu dari kapal yang sudah kehabisan bahan bakar dan perbekalan tersebut.
Baca Juga: TASPEN Buka Loker BUMN Jalur Prohire, Dicari Sosok Berpengalaman untuk Mengisi 3 Posisi di Bidang IT
AHTS Harrier melaju dengan kecepatan penuh mengirimkan koordinat para nelayan kepada kapal AHTS Parakan, yang berlokasi sekitar tiga mil laut dari lokasi kejadian.
Tepat pukul 07:48 WIB, setelah mendapatkan izin dari Fleet Control, AHTS Parakan menuju titik penyelamatan. Sesampainya di lokasi, kru PHE OSES memulai proses evakuasi.
Kru memastikan kondisi fisik para nelayan dan memberikan minuman dan makanan untuk mengganjal perut yang kosong.
Baca Juga: Liburan Seru di Singapura Saat Tahun Baru 2025, Panduan Lengkap untuk Merayakannya
Sembari mengisi tenaga, mereka menceritakan kepada kru, bagaimana badai telah menggagalkan perjalanan mereka menuju Pulau Segama.
Dengan memegang prinsip keselamatan manusia sebagai prioritas utama, kru AHTS Parakan memutuskan untuk menunda pekerjaan rutin mereka.