Bank Mandiri sendiri telah menyalurkan kredit sebesar Rp 285 triliun ke sektor berkelanjutan hingga kuartal III 2024, di mana Rp 142 triliun dialokasikan khusus untuk sektor hijau.
Baca Juga: Raih Karier Cemerlang Bersama PT GDPS, Ada Posisi Administration Staff di Garuda Indonesia
"ESG bukan hanya isu strategis, tetapi juga fondasi utama bagi keberlanjutan ekonomi," jelas Eka.
Diskusi ini juga menjadi momen peluncuran ESG Implementation Report 2024 hasil kerja sama Mandiri Institute dan BEI.
Laporan ini memberikan gambaran adopsi ESG di perusahaan tercatat maupun tidak tercatat, serta menyajikan temuan menarik seperti peningkatan adopsi ESG pada perusahaan Indonesia, di mana 64% perusahaan tercatat telah melakukan pengukuran emisi gas rumah kaca.
Baca Juga: ASDP Dukung Bank Indonesia Perkuat Distribusi Uang Rupiah hingga ke Pelosok Negeri
Hasil laporan juga menunjukkan bahwa Indonesia menempati peringkat ketiga di ASEAN dalam penerbitan sustainable bonds.
Namun, tantangan utama masih berkisar pada keterbatasan proyek hijau dan pemahaman terhadap instrumen pembiayaan keberlanjutan.
"Mayoritas perusahaan tercatat mengadopsi ESG untuk meningkatkan nilai perusahaan, sejalan dengan kebijakan pemerintah," ujar Head of Mandiri Institute, Andre Simangunsong.
Baca Juga: 5 Desa Natal di Dunia, Banyak Dikunjungi Turis yang Ingin Merasakan Suasana Khas Akhir Tahun
Strategi pasar karbon Indonesia dirancang bertahap, mencakup pasar karbon wajib, pasar karbon sukarela, dan penerapan pajak karbon mulai 2025.
Langkah ini diharapkan mendukung integrasi sistem perdagangan emisi dan meningkatkan efektivitas pasar karbon.
Andre menekankan, “Laporan ini menjadi referensi penting bagi pemangku kepentingan untuk mempercepat implementasi ESG di Indonesia.” ***