“Tidak ada proses yang mudah dalam meningkatkan kapasitas masyarakat. Namun, dengan pelatihan ini, warga binaan memiliki kesempatan untuk memulai hidup baru,” tambahnya.
Baca Juga: PHE Bangun Budaya Risiko di Hulu Migas, Buktikan Kompetensi Bisnis Hulu Migas
Tahun ini, program AKAR BASAH menggelar dua pelatihan utama: pembuatan canting cap batik dari limbah kertas dan pewarnaan batik menggunakan bahan alami.
Dengan bimbingan Sony Lolong, warga binaan memanfaatkan bahan lokal seperti daun ketapang dan kulit batang mangrove untuk menghasilkan motif batik khas.
Pelatihan ini telah diikuti oleh lebih dari 20 warga binaan, salah satunya berhasil mendapatkan pekerjaan setelah bebas.
Baca Juga: Inovasi Teknologi INTI Group untuk Lancarkan Nataru 2024/2025
Manager Communication Relations & CID PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI), Dony Indrawan, menyebutkan bahwa keberhasilan program ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak.
“Kami percaya kemandirian program seperti ini membutuhkan kolaborasi semua pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah dan penerima manfaat,” katanya.
Produk hasil karya warga binaan juga dipromosikan melalui media dan pameran, membuka peluang ekonomi yang lebih besar.
Baca Juga: Dukung Indonesia Sehat, BULOG dan Badan Gizi Nasional Bersinergi Hadirkan Pangan Berkualitas
Program AKAR BASAH juga mendapatkan pengakuan nasional dengan menjadi kandidat PROPER Emas 2024, penghargaan dari Kementerian Lingkungan Hidup.
PEP Tarakan Field terus membuktikan bahwa solusi lingkungan dapat berjalan seiring dengan pemberdayaan masyarakat, mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).***