Dari faktor emisi, CNG memiliki faktor emisi karbon sebesar 43 ton CO₂ per terajoule, jauh lebih rendah dibandingkan solar yang mencapai 76–77 ton CO₂ per terajoule.
Baca Juga: Peringatan 30 Tahun Telkomsel, Tukar Poin Undi-Undi Hepi dan Jadilah Pemenangnya
Penggunaan CNG oleh HKA diperkirakan mampu menekan emisi karbon hingga 878.584 ton CO₂ per tahun.
Selain itu, pembakarannya menghasilkan asap yang lebih jernih tanpa meninggalkan residu yang mencemari tanah atau air.
Tak kalah penting, konversi ini tidak menurunkan kualitas aspal yang dihasilkan.
Baca Juga: 6 Tips yang Bisa Dilakukan untuk Menghindari Pegal-pegal dan Kaku Saat Liburan
“Proses pembakaran CNG lebih bersih dan stabil, sehingga menjaga suhu tetap konsisten pada alat pemanas di pabrik aspal. Ini penting untuk menjaga kualitas aspal yang dihasilkan," terang Martin.
Tidak seperti BBM Solar yang butuh tangki penyimpanan dan pengelolaan persediaan, CNG langsung disalurkan oleh pemasok tanpa biaya penyimpanan.
"CNG juga lebih aman karena jika bocor, gasnya akan langsung menguap ke udara. Jadi, beralih ke CNG tidak hanya menghemat biaya, tapi juga lebih ramah lingkungan dan meningkatkan mutu produksi,” lanjutnya.
AMP Jabodetabek ditunjuk sebagai pilot project pada tahun 2023 yang menjadi dasar pengembangan lebih lanjut ke unit-unit lainnya.
Program ini dikembangkan oleh Tim CNG bersama Unit Produksi, dengan pengawasan dari Departemen Operasi II serta dukungan vendor penyedia burner dan gas.
HKA juga memperkuat aspek digitalisasi dengan penerapan sistem monitoring konsumsi bahan bakar secara real time melalui aplikasi LAMPS (Live Asphalt Mixing Plant System), yang memungkinkan kontrol dan penjadwalan produksi berbasis data.
“Dengan adanya digital monitoring dan pengelolaan energi yang terintegrasi, kami ingin memastikan bahwa efisiensi yang tercapai bisa konsisten, terukur, dan berkelanjutan di seluruh Unit Produksi HKA,” tutup Martin.