Ia menyebut, penggunaan gas domestik sebagai bahan bakar pembangkit listrik menjadi bagian dari strategi untuk mengurangi ketergantungan pada energi impor.
Baca Juga: PT KIW Buka Lowongan Magang untuk Mahasiswa dan Fresh Graduate, Ada Dua Posisi
“PLN terus berupaya mewujudkan visi swasembada energi, salah satunya dengan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar berbasis impor dan memaksimalkan penggunaan gas domestik untuk operasional pembangkit listrik."
"Langkah ini tidak hanya meningkatkan ketahanan dan kemandirian energi, tapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja,” ujar Darmawan.
Darmawan juga menekankan bahwa transisi energi memerlukan sinergi antarsektor dalam hal regulasi, teknologi, dan investasi agar Indonesia dapat membangun ekosistem energi yang kuat dan kompetitif.
Baca Juga: Kafe Unik Ini Bikin Kamu Serasa Mundur ke Masa Lalu, Sajikan Jajanan Jadul di dalam Gerbong Vintage
“Transisi energi bukan sekadar mengganti sumber energi, tapi membangun ekosistem yang tangguh dan berdaya saing."
"Kolaborasi dalam teknologi, investasi, dan regulasi akan menjadi kunci untuk mempercepat terwujudnya swasembada energi di Tanah Air,” tutup Darmawan.
Pada kesempatan tersebut, PLN menandatangani Memorandum of Agreement (MoA) dengan Kontraktor Masela PSC yang terdiri dari INPEX Masela Ltd., PT Pertamina Hulu Energi Masela, dan Petronas Masela Sdn. Bhd, terkait pemanfaatan LNG dari proyek Abadi LNG.
Baca Juga: Perkuat Pertahanan ASEAN, PT Pindad Jalin Kerja Sama dengan Mildef Malaysia
Selain itu, subholding PLN Energi Primer Indonesia (EPI) menandatangani empat kerja sama lain dalam bentuk Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) dengan berbagai KKKS.
Kerja sama tersebut mencakup pasokan gas sebesar 12 MMSCFD dari PT Pertamina EP untuk PLTGU Muara Tawar dan perjanjian amandemen serta novasi dengan Pertamina EP untuk suplai 5 MMSCFD ke PLTGU Tanjung Batu.
PLN EPI juga sepakat dengan Pertamina East Kalimantan untuk penyediaan 36 BBTUD gas bagi pembangkit di Tanjung Batu dan Bontang. Sementara itu, pasokan 0,4 BBTUD dari PT Imbang Tata Alam akan digunakan untuk kebutuhan listrik di wilayah Riau. ***