Kabar BUMN — Di tengah rimbunnya hutan Riau, suara gemericik sungai dan desir angin di antara pepohonan menjadi saksi atas upaya besar dalam menjaga kelestarian alam.
PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Regional Sumatra, Subholding Upstream Pertamina, telah merangkai kisah harmonisasi antara aktivitas migas dan perlindungan satwa liar, khususnya Gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus).
Kisah ini bukan sekadar cerita konservasi, melainkan tentang dedikasi perusahaan energi yang turut menjaga keberlangsungan hidup spesies yang kian terancam.
Baca Juga: Zona 13 Meriahkan Environmental Fest 2025 di Palu sebagai Wujud Komitmen Keberlanjutan
Konflik antara manusia dan gajah pernah mewarnai wilayah operasi PHR di Blok Rokan. Aktivitas industri dan pembangunan kerap mengganggu jalur migrasi gajah, membuat mereka tersesat ke pemukiman warga.
Tak jarang masyarakat menggunakan petasan jumbo untuk menghalau kawanan gajah yang melintasi kebun di Kabupaten Bengkalis, Riau, menciptakan situasi yang merugikan kedua belah pihak.
Ketika gajah kehilangan jalur alami, mereka terpaksa mencari makan hingga ke area yang dihuni manusia. Status gajah sumatra sebagai spesies kritis pun menjadikan kondisi ini semakin memprihatinkan.
Baca Juga: Gunung Rinjani Bukan untuk Pemula: Persiapkan Hal-Hal Ini agar Pendakianmu Aman
Namun, PHR menyadari pentingnya keberlanjutan operasi yang selaras dengan kelestarian lingkungan, sehingga mulai melakukan studi dan pendekatan konservasi yang lebih ramah.
Suparto, petani sekaligus Sekretaris Kelompok Tani Hutan (KTH) Alam Pusaka Jaya, pernah terlibat dalam penggunaan petasan jumbo. Namun setelah mengikuti program edukasi dari PHR, ia berbalik arah.
"Kami sadar bahwa gajah juga punya hak untuk hidup dan mencari makan. Dulu kami sering berinteraksi negatif dengan gajah, tapi sekarang kami bisa hidup berdampingan," kata Suparto.
Baca Juga: Masih Ada Waktu! Tukarkan Livin’poin dan Bawa Pulang Samsung Galaxy S25 Edge Sekarang
Ia menjadi salah satu anggota masyarakat yang ikut dalam program Konservasi Multispesies yang diinisiasi PHR bersama mitra pelaksana, Rimba Satwa Foundation (RSF).
Edukasi yang diberikan berhasil mengubah sudut pandang warga mengenai keberadaan gajah, dari yang semula dianggap hama menjadi bagian dari ekosistem yang perlu dijaga.