Solusi jangka panjang ditawarkan melalui pendekatan konservasi habitat dan pengembangan agrosilvopastura. PHR menanam berbagai tanaman yang menjadi pakan gajah seperti rumput odot dan buah-buahan manis.
Baca Juga: Presiden Prabowo Resmikan KEK Sanur, Perkuat Posisi Indonesia dalam Pariwisata Kesehatan Kelas Dunia
Warga juga dilibatkan dalam penanaman, sehingga gajah tetap nyaman di habitatnya dan tak lagi mendekati pemukiman.
Program agrosilvopastura juga turut dikembangkan dengan menanam tanaman bernilai ekonomi yang tidak disukai gajah seperti petai dan jengkol.
Cara ini efektif dalam membatasi interaksi langsung dan menjaga sumber penghasilan warga tetap aman dari gangguan gajah.
Baca Juga: 5 Kebiasaan Hidup Sehat yang Perlu Dilatih Selama Akhir Pekan
“Program ini sangat membantu dalam mengatasi interaksi negatif dengan gajah, sehingga konflik antara gajah dan manusia mengecil,” ujar Suparto.
Kini, bersama para anggota KTH lainnya, ia aktif dalam kegiatan konservasi di Zona Rokan. “Kami diberikan edukasi oleh PHR dan mitra pelaksananya RSF, hingga terbentuklah KTH Alam Pusaka Jaya ini,” tambahnya.
Manager Community Involvement and Development (CID) PHR Regional 1 Sumatra, Iwan Ridwan Faizal menjelaskan bahwa program ini merupakan bagian dari upaya pelibatan masyarakat.
Baca Juga: Buka Peluang Magang DKV di PTPN I Regional 3, Dapat Pengalaman Langsung di Dunia Industri!
“Gajah adalah hewan yang penting bagi ekosistem, dan mereka memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan alam."
"Kegiatan edukasi konservasi satwa dan ekosistem, pelibatan dan pemberdayaan masyarakat dalam pembinaan habitat serta agrosilvopastural yang dikembangkan PHR mampu mengurangi interaksi negatif dan ciptakan harmonisasi antara gajah dan manusia,” jelas Iwan.
Program konservasi multispesies ini memberikan dampak luas: mengurangi emisi karbon, menjaga keanekaragaman hayati, menggerakkan ekonomi lokal, serta memperluas ruang penerimaan terhadap keberadaan gajah. Dengan demikian, potensi konflik pun ikut menyusut.
Kisah “Sahabat Gajah” dari PHR menjadi bukti bahwa perusahaan dapat menjadi kekuatan perubahan positif."