"Artinya warga didorong untuk tinggal di rumah susun,” sambung Yayat.
Lebih jauh, Yayat menilai program ini bukan hanya menata kawasan, tetapi juga efektif menekan backlog perumahan dan mendukung target pemerintah untuk menyediakan satu juta rumah di wilayah perkotaan.
“Solusi mengatasi backlog untuk kawasan perkotaan yang paling realistis adalah membangun rumah susun,” lanjutnya.
Untuk itu, Yayat mendorong kolaborasi erat antara pemerintah pusat dan daerah agar penyediaan rusun lebih terintegrasi dan tepat sasaran.
Baca Juga: Perumnas Sukses Gelar Program Mudik Gratis, Hadirkan Perjalanan Aman dan Nyaman bagi Masyarakat
Menurutnya, anggaran Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang mencapai Rp17 hingga Rp18 triliun per tahun untuk bantuan sosial bisa dialihkan sebagian untuk memfasilitasi perpindahan warga ke rusun.
Yayat juga menegaskan pentingnya menyasar generasi produktif berusia 25 hingga 40 tahun, seperti generasi Z dan milenial, sebagai penerima manfaat utama dari program ini.
“Kalau orang tua itu susah didorong pindah ke rusun.
Baca Juga: Dibuka Lowongan Magang BUMN di Perumnas! Posisi Staf Administrasi Pendanaan Tersedia
"Makanya kelompok-kelompok usia produktif itu harus lebih diprioritaskan untuk mendapatkan rumah susun,” ujar Yayat.
Lebih dari sekadar pembangunan fisik, Yayat menilai program revitalisasi ini juga merupakan upaya penataan budaya masyarakat perkotaan.
Transformasi gaya hidup dan pola pikir menjadi kunci agar Jakarta bisa bertransformasi menjadi kota kelas dunia.
Baca Juga: Simak! Ini Lowongan Magang Staf Keuangan di BUMN Perumnas Tangerang Selatan
“Jakarta tidak akan pernah jadi kota global kalau warganya tidak berubah,” tegas Yayat.