Juga, penyaluran pangan bergizi berupa Beras Fortivit dan susu formula khusus tumbuh kembang untuk memenuhi kebutuhan vitamin, mineral, dan protein balita.
Baca Juga: Rajawali Nusindo Ikut Meriahkan Bazar Pangan Murah 80 Titik ID FOOD
Di lapangan, sejumlah anak yang tampak sehat secara kasat mata ternyata memiliki berat dan tinggi badan jauh di bawah standar.
Evi Rahmawati (30), warga setempat, mengaku anaknya mengalami stunting sejak usia 14 bulan.
“Beratnya tidak pernah naik. Di posyandu dekat rumah, ada empat anak teridentifikasi stunting, bahkan ada yang umur dua tahun beratnya cuma delapan kilo,” ungkapnya.
Baca Juga: 6 Restoran dan Jajanan Muslim Friendly di Disneyland Jepang untuk Liburan Nyaman
Sudarsono mengatakan, bantuan gizi ini bukan sekadar pemberian makanan tambahan, tetapi merupakan bentuk kepedulian dan komitmen terhadap masa depan generasi penerus bangsa.
"Kami berharap program ini dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh penerima manfaat, disertai edukasi gizi berkelanjutan untuk membentuk pola hidup sehat,” ujarnya.
Ia menambahkan, “Kami bekerja sama dengan Pemkab, dokter dari Universitas Trisakti, dan BUMN lain untuk memonitor langsung kondisi balita. Desa Karangdawa termasuk wilayah dengan angka stunting cukup tinggi."
Baca Juga: Rayakan HUT ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia, KAI Hadirkan Livery Spesial dan Promo Merdeka
BULOG berharap program ini dapat menjadi percontohan di daerah lain untuk mempercepat penurunan angka stunting nasional.
Perum BULOG melalui Program TJSL terus berkomitmen pada tiga fokus utama, pendidikan, lingkungan, dan pengembangan UMK (Usaha Menengah Kecil), sebagai wujud dukungan terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB).
Melalui kegiatan ini, BULOG tidak hanya memberikan manfaat langsung kepada masyarakat, tetapi juga menciptakan nilai bersama (Creating Shared Values) demi masa depan yang lebih sehat.***