"Ini tidak bisa hanya sektor hilir yang bertanggung jawab, tapi harus naik ke hulu,” kata Dadan.
SAF Pertamina sendiri merupakan hasil kolaborasi antara PT Kilang Pertamina Internasional, PT Pertamina Patra Niaga, dan PT Pelita Air Service.
Baca Juga: Wajib Dibeli, Ini Oleh-oleh Paling Populer di Tokyo
Produk bioavtur ini diproduksi lewat teknologi co-processing di Green Refinery Cilacap dengan menggunakan bahan baku nabati seperti minyak jelantah, lalu dipadukan dengan bahan baku fosil.
Produk tersebut sudah memenuhi standar uji sertifikasi nasional maupun internasional, serta mengantongi sertifikat Proof of Sustainability (POS) dan ISCC CORSIA yang menjamin rantai pasok berkelanjutan.
Inovasi ini bukan hanya menghadirkan lompatan teknologi, tetapi juga bentuk nyata komitmen Pertamina untuk mendukung target dekarbonisasi Indonesia menuju Net Zero Emission 2060.
Baca Juga: Distribusi SPHP di Serang Dipantau Langsung, Harga Beras Berangsur Turun
Penggunaan SAF berbahan dasar minyak jelantah menjadi langkah konkret dalam menghadirkan energi ramah lingkungan di sektor penerbangan. Tidak hanya mampu menurunkan emisi karbon hingga 84% dibandingkan avtur konvensional, SAF Pertamina juga mendukung ekonomi sirkuler serta memperkuat kemandirian energi nasional.
Pelita Air menjadi maskapai pertama yang mengadopsi SAF produksi Pertamina dalam uji coba ini. Penerbangan perdana tersebut juga menandai kesiapan ekosistem SAF untuk masuk ke tahap komersialisasi.
Pertamina melalui program UCollect juga menggandeng rumah tangga dan sektor HoReCa dalam pengumpulan minyak jelantah sebagai bahan baku SAF.
Baca Juga: Raih Automotive Awards 2025, DAMRI Jadi Role Model Transportasi Publik Masa Depan
Model partisipatif ini bukan hanya memperkuat ekonomi sirkular, tapi juga memastikan pasokan berkelanjutan untuk bahan baku bioavtur.
Dengan pengembangan ekosistem ini, Pertamina menargetkan diri menjadi pemasok utama bahan bakar penerbangan ramah lingkungan, tidak hanya di dalam negeri melainkan juga di kawasan Asia Tenggara.
Sebagai pemimpin transisi energi, Pertamina konsisten mendukung target net zero emission 2060 melalui program-program strategis yang sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) serta penerapan prinsip Environmental, Social & Governance (ESG) di seluruh lini usaha. ***