Kabar BUMN – Memasuki usia ke-56, PT Elnusa Tbk (Elnusa) menegaskan keseriusannya dalam menghadirkan solusi energi yang tidak hanya berorientasi pada keberlanjutan, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat serta bangsa.
Dengan mengusung tema “Leading Forward, Energizing Impact”, perjalanan lebih dari lima dekade ini menjadi momentum penting bagi Elnusa untuk terus melaju dengan inovasi, transformasi, serta kepedulian sosial.
Perusahaan ini telah tumbuh menjadi Living Legend Company yang senantiasa berinovasi, bertransformasi, dan beradaptasi dengan dinamika zaman.
Baca Juga: BRI Perkuat Ekosistem Pembayaran Digital, Volume Transaksi Merchant Tembus Rp105,5 Triliun
Sepanjang tahun 2025, kiprah Elnusa memainkan peran strategis dalam memperkuat ketahanan energi nasional.
Survei seismik darat berhasil mencakup area 564 kilometer persegi, layanan wireline mencatat 551 pekerjaan, well testing meliputi lebih dari 7.400 sumur, dan rig modular turut beroperasi dalam pengeboran di PHSS.
Pada sektor distribusi energi, tercatat lebih dari 11,8 juta kiloliter BBM dan 60 ribu ton LPG berhasil didistribusikan ke seluruh pelosok negeri.
Baca Juga: Makanan Tertua di Indonesia, Beberapa Tertulis pada Prasasti Abad ke 9
Tak hanya itu, Elnusa menorehkan sejarah baru melalui pelaksanaan survei seismik 3D dan multi-2D pertama di sektor pertambangan batubara.
Dengan dukungan teknologi vibroseis terkini dan perangkat penerima Smart SOLO, Elnusa mampu menghadirkan data berkualitas tinggi yang mendukung perencanaan tambang bawah tanah yang lebih aman dan efisien.
Pencapaian ini mengukuhkan posisi Elnusa sebagai pelopor survei seismik non-migas di Indonesia.
Baca Juga: Kontrak Segar untuk Waskita Karya, Rp238,86 Miliar Digelontorkan untuk Budidaya Ikan Nila Salin
Sementara di sektor kelautan, keberhasilan Elnusa melalui anak usahanya, Elnusa Trans Samudera (ETSA), dalam mendukung survei seismik 3D di perairan Songkhla, Thailand, membuktikan peran perusahaan sebagai penyedia jasa energi terintegrasi berstandar global sekaligus mengangkat nama Indonesia di level internasional.
Pada semester pertama 2025, implementasi HSSE (Health, Safety, Security, and Environment) membuahkan capaian Total Recordable Incident Rate (TRIR) sebesar 0,08, jauh di bawah ambang batas toleransi maksimum 0,20.